Humor and Incongruity in Stand-Up Comedy: An Analysis of Laughter in Don't Tell Comedy YouTube Channel
Emmanuela Evelyn Diandra, Dr. Dra. Rio Rini Diah Moekardi, M.A.
2025 | Skripsi | SASTRA INGGRIS
Penelitian ini mengeksplorasi makna pragmatik dari tawa dalam pertunjukan stand-up comedy dengan menggunakan kanal YouTube Don't Tell Comedy sebagai studi kasus. Melalui metode observasi kuantitatif, penelitian ini menganalisis 187 ujaran yang memunculkan tawa dari sepuluh video dengan jumlah penonton tertinggi antara Januari hingga April 2025. Setiap kemunculan tawa dikaji menggunakan teori inkongruitas (incongruity theory) dan dikategorikan berdasarkan fungsi pragmatik menurut kerangka yang dikembangkan oleh Mazzocconi et al. (2022). Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kategori Social Incongruity merupakan yang paling dominan, dengan subkategori Show Sympathy muncul sebanyak 101 kali atau 54 persen dari total data. Benevolent Induction hanya muncul satu kali, sementara subkategori seperti Softening Trouble-telling dan Smoothing tidak ditemukan. Dalam kategori Pleasant Incongruity, terdapat 84 kemunculan Enjoyment Incongruity (44,90 persen), dan hanya satu kasus Marking Incongruity yang teridentifikasi. Tidak ditemukan kasus Pragmatic Incongruity dalam data, termasuk subkategori seperti Marking Irony atau Scare Quoting. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa tawa paling sering berfungsi sebagai ekspresi simpati dan kenikmatan bersama, terutama sebagai respons terhadap materi yang bersifat ketidaksesuaian sosial. Analisis menunjukkan bahwa berbagai jenis ketidaksesuaian membentuk makna tawa dan bagaimana respons penonton memengaruhi interaksi antara komedian dan audiens. Dengan mengamati reaksi spontan dalam pertunjukan langsung, studi ini menyoroti bahwa tawa merupakan tindakan yang bermakna secara sosial dan pragmatik, yang memperkuat pemahaman bersama, koneksi emosional, dan kelancaran interaksional dalam diskursus komedi. Temuan ini menunjukkan bahwa humor tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai praktik komunikasi strategis dalam mengelola dinamika interpersonal dan membangun realitas bersama.
This research explores the pragmatic meaning of laughter in stand-up comedy using the Don’t Tell Comedy YouTube channel as a case study.Through a Qualitative observational method, the study analyzes 187 instances of laughter taken from the ten most viewed videos between January and April 2025. These laughables were examined using incongruity theory and categorized according to their pragmatic functions based on the framework by Mazzocconi et al. (2022). Qualitative analysis revealed that Social Incongruity was the most prevalent category, with Show Sympathy accounting for 101 instances or 54 percent of the total. Benevolent Induction appeared only once, while subtypes such as Softening Trouble-telling and Smoothing were not observed. In the category of Pleasant Incongruity, 84 laughables (44.90 percent) were identified as Enjoyment Incongruity, and Marking Incongruity occurred in just one case. No instances of Pragmatic Incongruity were found. Qualitative findings show that laughter most frequently performs the function of showing sympathy and shared enjoyment, particularly in response to socially incongruous material. The analysis connects different types of incongruity with the meaning of laughter, showing how audience responses shape the interaction between comedians and viewers. By examining spontaneous reactions in live stand-up comedy performances, the study highlights laughter as a socially and pragmatically meaningful act that fosters shared understanding, emotional connection, and interactional flow within comedic discourse. These insights demonstrate that humor functions beyond entertainment and serves as a strategic communicative practice for managing interpersonal dynamics and constructing shared realities.
Kata Kunci : Pragmatic meaning, Laughter, Stand-up Comedy, Incongruity Theory, Don't Tell Comedy