Analisis Pola Perubahan Tutupan Lahan Wilayah Utara Semarang Menggunakan Citra Sentinel-2A Tahun 2019-2024
Mardiyah Ayu Parahita, Ir. Abdul Basith, S.T., M.Sc, Ph.D.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Wilayah utara Semarang merupakan kawasan yang mengalami
tekanan pembangunan cukup tinggi akibat urbanisasi, reklamasi, dan perubahan
lingkungan seperti banjir rob dan penurunan muka tanah. Kondisi tersebut
menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan secara masif yang berpotensi
menimbulkan kerusakan ekosistem pesisir dan menurunnya daya dukung lingkungan.
Penelitian ini dilakukan untuk mendeteksi dan menganalisis pola perubahan
tutupan lahan di wilayah tersebut dalam kurun waktu 2019 hingga 2024 memanfaatkan
pendekatan penginderaan jauh. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui besarnya perubahan pada setiap kelas tutupan lahan, arah alih
fungsinya, serta kecenderungan pola sebarannya secara spasial.
Data yang digunakan berupa citra satelit Sentinel-2A tahun
2019 dan 2024 dengan resolusi spasial 10 meter. Proses pengolahan dilakukan
melalui tahapan pra-pemrosesan citra untuk melakukan training data,
klasifikasi terbimbing menggunakan algoritma maximum likelihood, serta deteksi
spasial berbasis overlay untuk memperoleh matriks perubahan tutupan
lahan. Uji akurasi dilakukan menggunakan titik sampel validasi yang
dibandingkan dengan citra resolusi tinggi dari Google Earth dan survei
lapangan. Selain itu, metode nearest neighbor analysis digunakan untuk menganalisis
pola persebaran perubahan lahan. Pendekatan ini tidak hanya digunakan untuk menganalisis
pola spasial perubahan, tetapi juga untuk mengidentifikasi luasan perubahan
pada masing-masing kelas tutupan lahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan
paling dominan terjadi pada perubahan lahan pertanian menjadi area terbuka
seluas 353,95 ha
dan sebagian kecil menjadi lahan terbangun seluas 52,77 ha, dengan total
penurunan lahan pertanian mencapai ±259,72 hektar. Peningkatan kelas lahan
terbangun hanya sekitar ±146,24 hektar, sementara area terbuka bertambah secara
signifikan seluas 202,95 ha. Perubahan dari badan air dan vegetasi lain ke area
terbuka juga menunjukkan adanya degradasi lahan, kemungkinan akibat sedimentasi
atau tekanan lingkungan lainnya. Pola perubahan menunjukkan kecenderungan
mengelompok (clustered), terutama di sekitar jalur pantura dan kawasan
reklamasi, yang menjadi pusat pembangunan.
The northern region of Semarang is an area experiencing
significant development pressure due to urbanization, land reclamation, and
environmental changes such as tidal flooding and land subsidence. These
conditions have led to massive land use conversion, which poses a threat to
coastal ecosystems and reduces the environmental carrying capacity. This study
aims to detect and analyze the spatial patterns of land cover change in the
area between 2019 and 2024 using a remote sensing approach. The main objective
is to quantify the extent of change in each land cover class, identify the
direction of land conversion, and assess the spatial distribution pattern of
those changes.
The data used consists of Sentinel-2A satellite imagery
from the years 2019 and 2024, with a spatial resolution of 10 meters. Data
processing includes pre-processing steps, training data creation, supervised
classification using the Maximum Likelihood algorithm, and overlay-based
spatial analysis to generate a land cover change matrix. Accuracy assessment
was carried out by validating sample points against high-resolution imagery
from Google Earth and field observations. Additionally, the Nearest Neighbor Analysis
(NNA) method was applied to analyze the spatial distribution of land cover
change. This approach not only analysis the spatial pattern of changes but also
quantifies the extent of conversion between land cover classes.
The results show that the most dominant land cover change
occurred in the conversion of agricultural land into open areas, covering
353.95 hectares, and to a lesser extent into built-up areas, covering 52.77
hectares. The total reduction in agricultural land reached approximately
±259.72 hectares. The built-up area increased by around ±146.24 hectares, while
open areas expanded significantly by 202.95 hectares. Changes from water bodies
and other vegetation classes into open areas also indicate land degradation,
possibly due to sedimentation or environmental stress. Spatially, the change
pattern tends to be clustered, particularly around the Pantura corridor and
reclamation zones, which serve as centers of urban development.
Kata Kunci : perubahan tutupan lahan, klasifikasi terbimbing, Sentinel-2A,Semarang