Pengaruh Kesetaraan Gender di Jepang terhadap Eksistensi Fenomena Bankonka
OITA YOLAFINA, Dr. Sri Pangastoeti, M.Hum.
2025 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mengalami penurunan jumlah penduduk. Salah satu penyebabnya adalah penundaan pernikahan di kalangan masyarakat yang disebut juga dengan bankonka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh kesetaraan gender yang menyebabkan perempuan Jepang dapat hidup mandiri tanpa harus terikat dengan seorang laki-laki, memiliki hubungan langsung dengan eksistensi bankonka di Jepang.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dengan target responden orang Jepang dengan kriteria usia 20-49 tahun dan berstatus mahasiswa atau karyawan. Sebagai dasar penelitian, penulis menggunakan teori feminisme-liberal yang dikemukakan oleh Nussbaum. Nussbaum menjelaskan bahwa untuk mencapai kesetaraan gender yang diinginkan tidak hanya dengan regulasi pemerintah dan mengubah pola pikir, akan tetapi juga dengan peranan sosial yang mendukung munculnya kesetaraan gender itu sendiri.
Dari hasil penelitian, kesetaraan gender di Jepang mempengaruhi eksistensi fenomena bankonka. Perempuan Jepang masih diharapkan untuk menjadi ibu rumah tangga secara full time seperti mengurus anak, kegiatan domestik rumah tangga, hingga tanggung jawab akan keharmonisan dalam hubungan pernikahan. Namun, dengan adanya kesempatan untuk menentukan nasib sendiri, perempuan Jepang lebih memilih untuk mengekspresikan diri dalam mengejar pendidikan, karir, dan berkarya di banyak bidang, dengan pertimbangan bahwa membangun keluarga menempatkan perempuan Jepang dalam posisi yang seringkali menuntut pengorbanan terhadap aspirasi pribadi dan professional mereka.
In recent years, Japan has experienced a decline in population. One of the causes is the postponement of marriage among the population, also known as bankonka. This study aims to determine whether gender equality in Japan, which allows Japanese women to live independently without being tied to a man, has a direct relationship with the existence of bankonka.
Data collection was conducted using a scale/questionnaire targeting Japanese respondents aged 20-49 years old who are either students or employees. As the foundation for this research, the author employs the liberal feminist theory proposed by Nussbaum. Nussbaum explains that achieving the desired gender equality is not only through government regulations and changing mindsets but also through social roles that support the emergence of gender equality itself.
The result of study show that gender equality in Japan influences the existence of the bankonka phenomenon. Japanese women are still expected to be full-time housewives, taking care of children, doing household chores, and being responsible for maintaining harmony in their marriages. However, with the opportunity to determine their own fate, Japanese women prefer to express themselves by pursuing education, careers, and working in many fields, considering that building a family often places Japanese women in a position that requires them to sacrifice their personal and professional aspirations.
Kata Kunci : bankonka, kesetaraan gender, perempuan Jepang, feminisme liberal