Hubungan pencahayaan dengan kelelahan mata pengrajin sulaman di Empat Angkat Candung Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat
HAMBALI, dr. Hartono, Sp.M.(K)
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaPengrajin sulaman tangan Empat Angkat Candung menghasilkan benda seni dengan bahan dasar kain dikenal dengan sebutan “Tarawang Biaroâ€. Semua pengrajin adalah wanita, dan umumnya sudah bekeluarga. Aktivitas menyulam dibutuhkan pencahayaan buatan, umumnya dengan penerangan listrik. Ciri khas sulaman ini dengan ragam hias berlubang-lubang kecil-kecil. Pekerjaan menyulam dapat dikategorikan pekerjaan yang teliti dengan membutuhkan tingkat pencahayaan 500 lux – 1000 lux. Sebelum perlakuan pengrajin hanya menggunakan tingkat pencahayaan rerata adalah 157,38 lux dengan jenis lampu TL dan lampu pijar. Apabila pengrajin terus menerus menggunakan jenis dan tingkat pencahayaan seperti adanya sebelum perlakuan, akan dapat menyebabkan kelelahan mata pengrajin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:(1) hubungan jenis pencahayaan buatan dengan kelelahan mata; (2) hubungan tingkat pencahayaan dengan kelelahan mata; (3) hubungan jenis dan tingkat pencahayaan dengan kelelahan mata. Penelitian ini merupakan Jenis penelitian eksperimen semu; yaitu mengadakan perlakuan terhadap pencahayaan buatan yang digunakan pengrajin sulaman tangan Empat Angkat Candung. Populasi semuanya adalah pengrajin wanita, dengan kriteria inklusi sampel diambil 60 responden, 30 orang sampel menggunakan jenis lampu TL dan 30 orang menggunakan jenis lampu pijar. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis pencahayaan dan tingkat pencahayaan, variabel terikat adalah kelelahan mata pengrajin. Analisis data menggunakan korelasi parsial dan analisis variansi dua jalur dengan prangkat SPS 2000. Hasil penelitian menunjukkan terdapat: (1) hubungan positif jenis pencahayaan dengan kelelahan mata secara sangat signifikan dengan (p = 0.000) dengan koefisien korelasi (r) = 0,386; (2) hubungan yang negatif tingkat pencahayaan dengan kelelahan mata pengrajin terbukti secara sangat signifikan dengan (p = 0,002) dengan koefisien korelasi (r) = -0.281; (3) hubungan yang positif jenis dan tingkat pencahayaan dengan kelelahan mata pengrajin terbukti secara sangat singnifikan (p = 0,000) dengan koefisien korelasi (r) = 0,359.
The hand-embroidered goods craftsworkers of Empat Angkat Candung produce art pieces whose fabric's basic material is known with name "Tarawang Biaro". All craftsworkers are women, in general they are married. Embroider activity needs built lighting, usually with electric illumination. The characteristic of this embroidery is pieces with small-holed decorative motif Embroidery work that can be categorized as a fine an meliculous work requiring lighting level of 500 lux to 1,000 lux. Before treatment, the craftswomen just used on average 157.38 lux lighting level using TL and incandescent lamps. If they constantly use sort and level of smaller illumination than expected like before treatment, then their eyes will quickly get tired. This study is aimed to know: (1) the relationship between lighting type and eyes fatigue; (2) the relationship between illumination level and eyes fatigue; and (3) the relationships between type and level of illumination with eyes fatigue. The type of this research was a quasi-experimental one; The lighting treatment was cunducted using craftswomen of Empat Angkat Candung. The population was consested of females craftsworkers, with sampling inclusion criteria was taken 60 respondents. Of these, 30 samples used TL lamp sort and 30 remaining used incandescent lamp. Independent variables within this study were lighting sort and illumination levels; whereas dependent variable was craftswoker's eyes fatigue. The data was analysed by using partial correlation and two way variant analysis using SPS 2000 software. Results of the research showed that there were: (1) a positive and quite significant relationship between lighting sort and eyes fatigue (p = 0.000) with correlation coefficient (r = 0.386); (2) a negative and quite significant relationship between illumination level and eyes fatigue (p = 0.002) with correlation coefficient (r = -0.281); and (3) a positive and quite significant relationship between sort and level of illumination with eyes fatigue (p = 0.000) with correlation coefficient (r = 0.359).
Kata Kunci : Kesehatan Kerja,Kelelahan Mata,Pencahayaan,Pengrajin Sulam