Implementasi Sestradi dalam Teks-Teks Dongeng Skriptorium Pakualaman: Kajian Filologi
RAHMAT, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.; Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum.
2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi kesusasteraan Jawa di Kadipaten Pakualaman yang menjadi keberlanjutan intelektual hingga saat ini. Karya-karya sastra yang diproduksi secara khusus untuk kepentingan pendidikan internal, salah satunya yaitu teks dongeng. Mengenai sumber daya dan keragaman teks-teks dongeng Pakualaman belum semuanya terjangkau dalam sebuah penelitian. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, mendeskripsikan, mengalihaksara, menyunting, dan menerjemahkan teks-teks dongeng, selanjutnya mengidentifikasi dan menganalisis struktur formal teks, serta mengungkap tujuan penciptaan teks-teks dongeng skriptorium Pakualaman. Metode yang digunakan untuk memilih teks yang disunting adalah metode landasan, sedangkan suntingan teks dihadirkan dalam edisi kritis dengan perbaikan bacaan. Metode untuk mengidentifikasi dan menganalisis struktur formal pembentuk teks ialah dengan mengungkap dan mengurai tiga aspek naratif yaitu aspek verbal, sintaksis, dan semantik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teks-teks dongeng skriptorium Pakualaman ditemukan dalam tiga belas naskah dengan jumlah suntingan teks dan terjemahan sebanyak tiga puluh tujuh teks. Secara formal teks berbentuk puisi tembang macapat, dengan muatan-muatan pokok pikiran disertai liding dongeng 'pesan cerita'. Adapun tujuan penciptaan teks yaitu sebagai wahana hiburan, sumber pengetahuan, dan sebagai implementasi piwulang sestradi yang tampak dari oposisi biner watak tokoh maupun peristiwa yang selaras dengan butir watak baik dan buruk sestradi. Hal itu diwujudkan untuk generasi muda Pakualaman agar menjadi manusia utama dan dapat meraih kemuliaan hidup. Teks-teks yang diciptakan dipengaruhi oleh lelaku Paku Alam dan kondisi zaman yang menyertainya. Dari teks-teks dongeng yang diproduksi serta mempertimbangkan aspek lelaku tampak amanat yang hendak disampaikan oleh dinasti Pakualaman untuk generasi penerusnya, yaitu sebagai penanaman dan pemerkokoh pendidikan karakter, tangguh menghadapi kesulitan, serta mempersiapkan diri menyongsong perubahan zaman sebagai bekal diri maupun sebagai pemimpin di masa mendatang.
This research motivated by the condition of Javanese literature in the Kadipaten Pakualaman which is an intellectual continuity to this day. Literary works produced specifically for the benefit of internal education, one of which is the fairy tale text. The resources and diversity of Pakualaman's fairy tale texts have not all been reached in a study. Therefore, this study aims to inventory, describe, transliterate, make a text edition, and translate fairy tale texs, then identify and analyse the formal structure of the texts, and reveal the purpose of the creation of Pakualaman scriptorium fairy tale texts. The method used to select the text edition is the grounding method, while the text edition is presented in a critical edition with reading corrections. The method for identifying and analysing the formal structure of text formation is by revealing and parsing three narratives aspects, namely verbal, syntactic, and semantic aspects. The result of this study show that the fairy tale texts from the Pakualaman scriptorium are found in thirteen manuscripts with a total of thirty seven text for text edition and translations. Formally structure text is in the form of a tembang macapat poem, with the main content of the thoughts accompanied by liding dongeng "story messages". The purpose of the creation of the text is as a vehicle for entertainment, a source of knowledge, and as an implementation of the piwulang sestradi, which can be seen from the binary opposition of characters and events that are in line with the good and bad character points of sestradi. It is realised for the next generation of Pakualaman in order to become the main human being and can achieve the glory of life. The texts created are influenced by the lelaku Paku Alam and the conditions of the times. From the fairy tale texts produced and considering the lelaku aspect, it appears that the mandate that the Pakualaman dynasty wants to convey to its next generations is to instil and strengthen character education, to be resilients in facing difficullties, and to prepare themselves for the changing times as self-sufficiency and as future leaders.
Kata Kunci : filologi, naratif, Pakualaman, sestradi, teks dongeng, philology, narrative, Pakualaman, sestradi, fairy tale text