Laporkan Masalah

Kajian pengembangan jaringan distribusi air bersih PDAM Tirta Meulaboh

DARMI, Dr.Ir. Radianta Triatmadja

2004 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Permasalahan jaringan perpipaan merupakan suatu hal yang rumit dan komplek. Dengan perkembangan kota dan pertambahan penduduk, kebutuhan air bersih terus meningkat sedangkan disisi lain perencanaan yang dilakukan belum optimal. PDAM Tirta Meulaboh sampai akhir tahun 2003 belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggan dan permintaan sambungan baru yang terus meningkat sementara ketersediaan sumber air baku cukup besar. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem jaringan air bersih PDAM Meulaboh dan merencanakan pengembangan ke depan serta diharapkan menjadi bahan masukan bagi PDAM Tirta Meulaboh. Penelitian ini merupakan studi kasus pada sistem jaringan air bersih PDAM Tirta Meulaboh. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, melakukan survei langsung ke lapangan dan mengumpulkan data-data pada instansi terkait. Alat bantu analisis yang digunakan adalah sotfware WaterNet versi 1.6. Analisis yang dilakukan adalah kondisi jaringan eksisting, jaringan eksisting menggunakan tangki, pengembangan jaringan sampai tahun 2013, dan analisis jaringan eksisting dengan sumber air alternatif. Setelah dilakukan analisa teknis maka dilakukan analisa ekonomis untuk mengetahui kondisi yang mana lebih menguntungkan. Hasil running dengan WaterNet pada kondisi eksisting menunjukkan pengaliran air keseluruh node kebutuhan berjalan baik dengan tekanan yang cukup tinggi, namun keadaan di lapangan tidak semua node pada kondisi eksisting, air mengalir dengan baik.. Untuk mengetahui permasalahan tersebut dilakukan running dengan perlakuan menambah kebutuhan sebesar 25 persen dan 50 persen pada nodenode yang telah dibagi menjadi beberapa zona. Hasil running menunjukkan penambahan kebutuhan pada zona 1 sebesar 50 persen menyebabkan tekanan menurun di bawah nol (negatif) terutama pada zona 2 dan zona 3. Dari beberapa perlakuan dapat disimpulkan kurang baiknya pengaliran air pada jaringan eksisting PDAM Tirta Meulaboh karena adanya kehilangan air yang cukup besar ada zona 1. Pengembangan jaringan sampai tahun 2013 akan lebih efesien bila mengganti beberapa pipa saja. Selisih biaya yang dibutuhkan untuk mengganti seluruh pipa dengan mengganti beberapa pipa adalah sebesar Rp.2.966.448.701. Dari beberapa kondisi sistem jaringan yang direncanakan, maka sistem jaringan menggunakan tangki secara ekonomis lebih menguntungkan karena pengembalian modal lebih cepat bila dibandingkan dengan kondisi jaringan yang tidak menggunakan tangki. Sedangkan pada jaringan dengan sumber air alternatif nilai benefit cost ratio (BCR) lebih kecil dari nol yang berarti mengalami kerugian.

Piping network is one difficult and complex problem. Due to urban development as well as increasing population growth, drinking water demand grows continuously but with un-optimum plan on the contrary. Up to the end of 2003, the PDAM Meulaboh has not been able to fulfill the drinking water demand of the people or new junction either, although water source is quite large. The objective of this study is to analyze the clean water supply system network of PDAM Tirta Meulaboh and to plan its future advancement. This research is a case study of clean water supply network system of PDAM Tirta Meulaboh. Data collecting is carried out through literature study, direct field survey and data from related institutions. Supporting software used in the analysis is the WaterNet Version 1.6. The analysis includes the analysis of existing network condition, existing network with tank, network development until 2013, and analysis of existing network with alternative water resource. Technical analysis is followed by economical analysis to identify more profitable condition. The results of WaterNet software running at the existing condition show that water flowing to the entire demand nodes goes well with quite high pressure. But field condition shows that water does not flow to all of the demand nodes. There are even some nodes with no water flowing at all. To identify the problem, running is carried out by adding 25% of demand and 50% to nodes that have been divided into several zones. The running results show that due to additional 50% demand at zone 1, the pressure goes down below zero (negative) especially for zone 2 and 3. Based on several simulation, it can be concluded that water flowing deficiency of the existing piping network of PDAM Tirta Meulaboh is because water loosing in zone 1. The network development until 2013 will be efficient only by replacing several pipes. The costs to replace the entire pipes to only several pipes is Rp 2.966.448.701 more expensive. Based on the planned network system condition, the tank network system is economically due to its sooner break-event point than non-tank network. As for network with alternative water source, the benefit cost ratio (BCR) value shows lower than zero that indicates deficit.

Kata Kunci : Hidrologi,Sistem Jaringan Distribusi,Air Bersih, network system, simulation, WaterNet


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.