ANALISIS RESILIENSI MANAJEMEN EKOWISATA PASCA COVID-19 DI KAWASAN EKOWISATA BUKIT LAWANG DAN TANGKAHAN KABUPATEN LANGKAT
Watimena Nababan, Dr. Ir. Kaharuddin, S.Hut., M.Si., IPU ; Dr. Ir. Much Taufik Hermawan T., S.Hut., M.Si., IPU
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata, termasuk ekowisata berbasis konservasi di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Penurunan jumlah kunjungan, pembatasan aktivitas, serta gangguan terhadap ekonomi lokal memunculkan kebutuhan mendesak untuk memahami kapasitas adaptif dan ketahanan pengelolaan destinasi wisata alam dalam menghadapi krisis. Dalam konteks tersebut, resiliensi manajemen menjadi kunci untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca-pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resiliensi manajemen ekowisata di dua lokasi studi, yaitu Bukit Lawang dan Tangkahan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, serta mengeksplorasi hubungan antara tingkat perkembangan objek ekowisata dengan kapasitas resiliensi manajemennya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus komparatif, guna memperoleh pemahaman mendalam terhadap dinamika kelembagaan, strategi adaptasi, dan peran pemangku kepentingan lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, studi dokumen, serta kuisioner eksploratif skala Likert sebagai alat bantu untuk mengarahkan fokus eksplorasi tematik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kawasan memiliki tingkat resiliensi manajemen yang relatif tinggi namun dengan kekuatan yang berbeda. Tangkahan lebih menonjol dalam aspek tata kelola kelembagaan yang formal dan terkoordinasi, sementara Bukit Lawang menunjukkan kekuatan dalam partisipasi komunitas meskipun dengan struktur pengelolaan yang lebih informal. Analisis berdasarkan lima prinsip resiliensi dari Biggs et al. (2015)—keberagaman, konektivitas, pembelajaran, partisipasi, dan tata kelola inklusif—menunjukkan bahwa bentuk tata kelola lokal sangat memengaruhi kapasitas adaptif kawasan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat kecenderungan linier antara tingkat perkembangan objek ekowisata dan resiliensi manajemen. Kawasan yang memiliki tingkat perkembangan fasilitas, pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat yang lebih baik juga menunjukkan kapasitas manajerial yang lebih kuat. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi antara pengembangan destinasi dan penguatan kapasitas kelembagaan sebagai fondasi untuk ketahanan jangka panjang. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai resiliensi sosial-ekologis dalam konteks ekowisata serta menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan destinasi berbasis konservasi yang tangguh terhadap krisis.
The COVID-19 pandemic has had a significant impact on the tourism sector, including conservation-based ecotourism within the Gunung Leuser National Park (TNGL). The sharp decline in visitor numbers, restrictions on activities, and disruptions to local economies have highlighted the urgent need to understand the adaptive capacity and resilience of nature-based tourism destination management in times of crisis. In this context, management resilience is key to ensuring the sustainability of ecotourism areas in the post-pandemic era. This study aims to analyze the resilience of ecotourism management in two selected sites—Bukit Lawang and Tangkahan, located in Langkat Regency, North Sumatra—and to explore the relationship between the level of ecotourism development and the capacity for resilient management. The research adopts a qualitative approach with a comparative case study design, allowing for an in-depth understanding of institutional dynamics, adaptive strategies, and the role of local stakeholders. Data were collected through semi-structured interviews, field observations, document analysis, and exploratory Likert-scale questionnaires used as supportive tools to guide thematic exploration.
The findings reveal that both sites demonstrate relatively high levels of management resilience, albeit with distinct strengths. Tangkahan stands out in terms of formal and coordinated institutional governance, while Bukit Lawang excels in community participation despite its more informal and ad-hoc management structure. Analysis based on five resilience principles from Biggs et al. (2015)—diversity, connectivity, learning and experimentation, stakeholder participation, and inclusive governance—shows that the form of local governance significantly influences adaptive capacity.
The study also finds a contextually linear relationship between the level of ecotourism development and management resilience. Destinations with more advanced infrastructure, services, and community empowerment also tend to exhibit stronger institutional and adaptive capacities. These findings highlight the importance of integrating destination development with institutional strengthening as a foundation for long-term resilience. This research contributes to the literature on social-ecological resilience in ecotourism contexts and offers practical insights for designing policies that support robust and adaptive management of conservation-based tourism destinations in the face of future crises.
Kata Kunci : Kata Kunci : ekowisata; resiliensi manajemen; Bukit Lawang; Tangkahan; prinsip resiliensi; COVID-19