Dinamika Wacana dan Koalisi Aktor Dalam Konflik Penutupan TPST Piyungan: Analisis Jaringan Diskursus (2015-2024)
Destha Sakharani Kadarso, Hafidz Wibisono, S.T., M.T., Ph.D.
2025 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Permasalahan pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin rumit seiring pertumbuhan penduduk dan volume sampah yang terus meningkat. TPST Piyungan yang menjadi pusat pengelolaan sampah di wilayah Kertamantul (Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul) mengalami kelebihan kapasitas dan penurunan kualitas lingkungan. Penutupan TPST Piyungan baik secara sementara maupun permanen memunculkan konflik dan perbedaan pandangan dari berbagai aktor yang terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana dominan, koalisi antaraktor, serta strategi penanganan sampah pasca-penutupan TPST Piyungan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode Discourse Network Analysis (DNA) berbasis berita online dari Detik.com, Radar Jogja, dan Harian Jogja selama tiga periode utama. Analisis digunakan melalui software DNA 3.0.9. dan visualisasi jaringan menggunakan software SPSS 26 dan Visone. Data dikodifikasi berdasarkan organisasi, konsep, dan posisi setuju atau tidak setuju aktor terhdap suatu isu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana dominan bergeser dari tuntutan perbaikan sistem pegelolaan (2015-2019) ke desakan kebijakan penutupan dan perluasan lahan (2020-2023), hingga wacana pencarian solusi alternatif dan desentralisasi penanganan sampah (2024). Pada periode tahun 2015-2019 terbentuk 4 koalisi aktor yang menunjukkan kompleksitas kepentingan, kemudian pada tahun 2020-2023 menjadi 3 koalisi aktor yang lebih terpolarisasi, dan menyusut menjadi 2 koalisi utama pada tahun 2024 yang mendukung mengenai percepatan solusi kebijakan dan satu lagi mewakili kekhawatiran atas dampak sosial-ekonomi. Strategi wilayah terdampak pasca-penutupan TPST Piyungan meliputi penguatan TPS3R, edukasi pemilahan sampah, dan kerja sama lintas daerah. Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada hal teknis, melainkan juga politis dan sosial. Metode DNA terbukti efektif dalam memetakan dinamika wacana dan hubungan aktaraktor untuk mendukung perumusan kebijakan berkelanjutan.
The issue of waste management challenges in the Special Region of Yogyakarta is growing more complicated alongside the increasing population and the rising amount of waste produced. TPST Piyungan, the central waste processing facility for the Kertamantul area (Yogyakarta City, Sleman, Bantul), has suffered from overcapacity and environmental degradation. The temporary and eventual permanent closure of TPST Piyungan has sparked conflicts and divergent perspectives among various stakeholders. This research aims to analyze dominant discourses, actor coalitions, and waste management strategies following the facility's closure. The study adopts a qualitative approach using Discourse Network Analysis (DNA) based on online news articles from Detik.com, Radar Jogja, and Harian Jogja across three main time periods. Data were analyzed using DNA 3.0.9 software, with network visualizations conducted through SPSS 26 and Visone. Statements were coded based on organization, concept, and actor position (agreement/disagreement) regarding specific issues. The findings reveal a shift in dominant discourses from demands for improved waste management systems (2015–2019), to policy pressure and land expansion (2020–2023), and finally toward alternative solutions and decentralized waste handling (2024). Between 2015-2019, four actor coalitions formed and each representing different interest. Overtime, these shifted into three more polarized coalitions during 2020-2023. By 2024, they had consolidated into two main groups,one advocating for the acceleration of policy implementation and the other voicing concerns regarding the potential social and economic implications. Post-closure strategies in affected areas include strengthening community-based waste processing (TPS3R), public education on waste sorting, and interregional cooperation. This study confirms that waste policy is not merely a technical issue but also deeply political and social. DNA has proven effective in mapping discourse dynamics and actor relationships to inform sustainable policy formulation.
Kata Kunci : Discourse Network Analysis (DNA), pengelolaan sampah, sampah perkotaan, TPST Piyungan