Laporkan Masalah

Eksplorasi Pengetahuan Lokal tentang Ekologi dalam Toponimi di Kawasan Waduk Jatigede: Studi Linguistik Antropologis

Dini Gilang Sari, Prof. Dr. Suhandano, M.A.

2025 | Tesis | S2 Linguistik

Toponimi merupakan salah satu fakta linguistik yang menarik karena dapat merekam kesadaran masyarakat terhadap ruang yang mewadahinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan lokal tentang ekologi dalam toponimi di kawasan Waduk Jatigede. Penelitian ini menggunakan pendekatan linguistik antropologis yang dipusatkan pada model etnografi. Dalam praktiknya, model ini lazim menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara. Ada tiga temuan dalam penelitian ini. Pertama, toponimi di kawasan Waduk Jatigede hadir dalam bentuk kata monomorfemis, kata polimorfemis, dan frasa. Leksikon penanda toponimi tersebut didominasi oleh kata polimorfemis dan frasa. Selain itu, toponimi tersebut juga dianalisis berdasarkan jenis leksem yang membentuknya, yaitu leksem primer dan leksem sekunder. Leksem primer dalam toponimi dapat berupa kata monomorfemis dan kata polimorfemis. Adapun leksem sekunder dalam toponimi biasanya berupa frasa yang memiliki atribut tambahan bagi leksem primer. Kedua, dari segi makna, Ainiala, dkk. (2016) mengklasifikasikan toponimi ke dalam dua kategori, yaitu nama alam dan nama budaya. Sementara itu, Sudaryat, dkk. (2009) mengklasifikasikan toponimi berdasarkan karakteristiknya, yaitu aspek fisikal dan aspek nonfisikal. Ketiga, dalam perspektif linguistik antropologis, toponimi di kawasan Waduk Jatigede memuat pengetahuan lokal masyarakat tentang ekologi. Jadi, toponimi ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan juga bagian dari sistem kearifan lokal yang mencerminkan cara pandang masyarakat dalam memperlakukan alamnya. Selanjutnya, penelitian ini mengusulkan kategori tambahan dalam klasifikasi toponimi, yaitu topografi fungsional, yang mencakup nama-nama tempat yang tidak hanya merujuk pada bentuk geografis, tetapi juga pada fungsi ekologis dan sosial-budaya yang melekat pada tempat tersebut bagi masyarakat sekitar, seperti sumber air, lahan pertanian, atau kawasan yang dianggap keramat.

Toponyms are one of the interesting linguistic facts because they can record people's awareness of the space that contains them. This research aims to explore local knowledge about ecology in toponyms in Waduk Jatigede area. This research uses an anthropological linguistic approach centred on the ethnographic model. In practice, this model commonly uses participant observation and interview methods. There are three findings in this research. First, toponyms in Waduk Jatigede area are present in the form of monomorphemic words, polymorphic words, and phrases. Polymorphic words and phrases dominate the lexicon of toponym markers. In addition, the toponyms are also analysed based on the types of lexemes that form them, namely primary lexemes and secondary lexemes. Primary lexemes in toponyms can be monomorphemic words or polymorphic words. The secondary lexemes in toponyms are usually phrases that have additional attributes for the primary lexemes. Second, in terms of meaning, Ainiala et al. (2016) classified toponyms into two categories, namely natural names and cultural names. Meanwhile, Sudaryat et al. (2009) classify toponyms based on their characteristics, namely physical aspects and non-physical aspects. Third, from the perspective of anthropological linguistics, toponyms in Waduk Jatigede area contain local knowledge about ecology. So, these toponyms are not just geographical markers, but also part of the local wisdom system that reflects the community's perspective on their nature. Furthermore, this study proposes an additional category in the classification of toponyms, namely functional topography, which includes place names that not only refer to geographical form, but also to the ecological and socio-cultural functions attached to the place for the surrounding community, such as water sources, agricultural land, or areas that are considered sacred.

Kata Kunci : ekologi, linguistik antropologis, pengetahuan lokal, toponimi, Waduk Jatigede

  1. S2-2025-513412-abstract.pdf  
  2. S2-2025-513412-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-513412-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-513412-title.pdf