Bantuan Kemanusiaan Pemerintah dan Palang Merah Jepang Dalam Penanganan Gempa Yogyakarta 2006
Ridwansyah Yahya, Anisa Ledy Umoro, S.S., M.A., Ph.D.
2025 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Gempa Yogyakarta tahun 2006 menelan lebih dari
5.800 korban dan menyebabkan banyak kehancuran infrastruktur. Bencana seperti
ini memerlukan banyak bantuan baik dari dalam maupun luar negeri. Jepang
merupakan salah satu negara yang merespons dengan ekstensif melalui berbagai
macam bentuk bantuan kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme serta bentuk bantuan yang diberikan
oleh pemerintah Jepang dan Palang Merah Jepang, sekaligus menelaah bagaimana
bantuan yang diberikan tersebut sejalan dengan prinsip dari Humanitarian
Assistance and Disaster Relief yang berisi humanitary, impartiality,
neutral, dan independence.
Temuan dan hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa pemerintah Jepang dan Palang Merah Jepang memiliki mekanisme yang berbeda
dalam proses pemberian bantuan. Mekanisme pemberian bantuan dari pemerintah
Jepang diatur dalam kebijakan-kebijakan luar negeri Jepang, sementara itu
Palang Merah Jepang sebagai anggota dari IFRC mengikuti pedoman pemberian
bantuan yang sudah sesuai dengan koordinasi dari organisasi. Bantuan yang
diberikan oleh Jepang terbagi menjadi bantuan yang bersifat respons cepat dan
rekonstruksi rehabilitasi. Pemberian bantuan respons cepat oleh pemerintah
Jepang dilakukan dengan mengirim tim medis dan JSDF yang tergabung dalam tim JDR.
Bantuan rehabilitasi rekonstruksi dari pemerintah Jepang diberikan melalui dana
hibah grassroots yang digunakan untuk membangun kembali infrastruktur
yang rusak. Sementara itu Palang Merah Jepang memberikan bantuan respons cepat
dengan melakukan pelayanan medis kepada korban. Bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi
yang diberikan oleh Palang Merah Jepang meliputi pembangunan kembali markas
Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul dan bantuan livelihood kepada para
penyandang disabilitas yang masih bisa dirasakan manfaatnya hingga saat ini.
The 2006 Yogyakarta earthquake was one of the
most devastating natural disasters, resulting around 5.800 death and widespread destruction of infrastructure.
Such disasters require substantial assistance, both domestically and
internationally. Japan was one of the countries that responsded comprehensively
through various forms of humanitarian aid. This research analyzes the
mechanisms and forms of assistance provided by the Japanese government and the
Japanese Red Cross Society, as well as how the aid aligned with the principles
of Humanitarian Assistance and Disaster Relief, which include humanity,
impartiality, neutrality, and independence.
The findings of this study show that the
Japanese government and the Japanese Red Cross Society each have their own
mechanisms in delivering aid. The Japanese government’s aid mechanism is
governed by Japan's foreign policy frameworks, while the Japanese Red Cross
Society, as a member of the IFRC, follows coordinated aid delivery guidelines.
Japan’s aid was divided into quick responsse aid and
rehabilitation-reconstruction assistance. The Japanese government's quick responsse
included deploying medical teams and the JSDF as part of the JDR team. Its
rehabilitation and reconstruction aid was provided through grassroots grant
funding used to rebuild damaged infrastructure. Meanwhile, the Japanese Red
Cross Society contributed to the emergency responsse by providing medical
services to victims. The rehabilitation and reconstruction
assistance provided by the Japanese Red Cross Society included the rebuilding
of the Bantul PMI headquarters and livelihood support for people with
disabilities, the benefits of which are still being felt to this day.
Kata Kunci : Palang Merah Jepang, Pemerintah Jepang, gempa Yogyakarta 2006, bantuan kemanusiaan