Karakteristik Habitat Lokasi Peneluran dan Faktor Lingkungan yang Memengaruhi Kehadiran Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu
Rina Fatkhiyah, Dr.rer.nat. Ir. Sena Adi Subrata, S.Hut, M.Sc., IPU.;Dr.rer.silv. Ir. Sandy Nurvianto, S.Hut., M.Sc., IPM.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Maleo termasuk
satwa endemik Sulawesi yang memiliki persyaratan habitat yang spesifik dan cara
perkembangbiakan yang unik yaitu tidak mengerami telurnya tapi menguburnya
dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik
habitat lokasi peneluran serta mengidentifikasi faktor lingkungan yang memengaruhi
kehadiran maleo di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Pengukuran karakteristik
habitat terdiri dari faktor abiotik meliputi kelerengan, ketinggian, suhu tanah,
kelembaban tanah, pH tanah, intensitas cahaya, kedalaman lubang dan jarak dari
sumber air panas, jalan raya, kebun serta pemukiman, sementara biotik berkaitan
dengan vegetasi, tutupan tajuk, tutupan tumbuhan bawah dan volume daun. Pengamatan
kehadiran maleo dilaksanakan dengan metode pengamatan langsung dan pengamatan tidak
langsung dengan menggunakan kamera trap.
Karakteristik habitat
peneluran maleo di TNLL berada pada ketinggian 0–1000 mdpl (hutan pamah/dataran
rendah) dan 1000-1500 mdpl (hutan pegunungan bawah), kelerengan sebagian besar datar/landai,
dengan suhu tanah 25-41°C, kelembaban tanah rata-rata 63.7–91.9%, pH tanah 3.8–7.6,
intensitas cahaya rata-rata 139.7-3046.2 lx, kedalaman lubang rata-rata 28.6-45 cm, jenis substrat tanah
berpasir, dekat dengan sumber air panas dan jauh dari aktivitas manusia serta
tutupan vegetasi tumbuhan bawah yang lebih rendah cenderung disukai maleo untuk
memudahkan aktivitasnya dalam menggali lubang peneluran. Hasil Mann-Whitney U
test menunjukkan bahwa kelembaban, jarak dari sumber air panas, tutupan
tumbuhan bawah dan volume daun pada 0-30 cm memiliki perbedaan signifikan
antara lokasi peneluran used dan available. Hasil uji regresi
logistik family binomial
menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang memengaruhi kehadiran maleo di TNLL
secara signifikan (p<0>adalah tutupan tumbuhan bawah, dimana pengaruhnya
negatif, semakin tinggi tutupan tumbuhan bawah maka probabilitas kehadiran
maleo semakin rendah. Oleh karena itu, pembinaan habitat pada sekitar lubang
peneluran perlu dilakukan dengan mengurangi tutupan tumbuhan secara selektif
terutama spesies invasif yang berpotensi mengganggu proses penggalian lubang
peneluran. Selain itu, lokasi-lokasi dimana ditemukan kehadiran maleo dapat dijadikan
prioritas dalam kegiatan konservasi maleo.
Maleo (Macrocephalon
maleo) is an endemic bird of Sulawesi. It has spesific nesting habitat and
also has a unique nesting behavior, burying its eggs in the ground. The aims of
this research were to determine the characteristics of nesting habitats and
identify the environmental factors affecting its presence in Lore Lindu
National Park (LLNP). Habitat characteristics were measured based on abiotic
factors, including slope, elevation, soil temperature, soil moisture, soil pH,
light intensity, nest depth, and distance to hot springs, roads, plantations,
and human settlements. Biotic factors including vegetation density at different
growth stages, canopy cover, understory cover, and foliage density. Maleo’s
presence was recorded through direct and indirect observations using camera traps
Nesting sites were
found at elevations of 0–1000 mdpl (lowland forests) and 1000–1500 mdpl (lower
montane forests) with mostly flat/gentle slopes, soil temperatures ranged from
25 to 41°C, with an average soil humidity of 63.7–91.9%, and soil pH levels ranging
from 3.8 to 7.6. The average light intensity measured between 139.7 and 3046.2
lux, while the average hole depth ranged from 28.6 to 45 cm. The substrate was
sandy soil, and nesting sites were located near hot springs and far from human
activities. Additionally, nesting sites exhibited lower understory vegetation
cover, making it easier for maleo to dig egg-laying holes. The Mann-Whitney U
test revealed significant differences in soil moisture, distance to hot
springs, understory cover, and foliage density 0-30 cm between used and
available nesting habitats. Logistic regression analysis identified understory
cover as the primary factor influencing maleo presence, which had a negative
effect. Higher understorey vegetation cover was associated with a lower
probability of maleo presence. Therefore, habitat management around nesting
sites should involve selective reduction of vegetation cover, particularly
invasive species that could obstruct nest excavation. Additionally, sites where
maleo presence is confirmed should be prioritized in conservation efforts.
Kata Kunci : maleo, Taman Nasional Lore Lindu, habitat peneluran, faktor lingkungan