Laporkan Masalah

ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHA TERNAK KELINCI PEDAGING DI KABUPATEN SEMARANG

Dhiwa Arif Farrastra, Prof. Dr. Ir. Tri Anggraeni Kusumastuti, S.P., M.P., IPM.

2025 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Kelinci pedaging sebagai sumber protein hewani berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. Penelitian ini bertujuan mengukur produksi  dan pendapatan pada dua kelompok peternak, yaitu yang menjual kelinci hidup serta yang menjual kelinci hidup dan karkas. serta tingkat risiko produksi dan pendapatan. Penelitian dilaksanakan pada Januari-Maret 2025 di Kabupaten Semarang. Responden berjumlah 33 peternak yang dipilih melalui teknik snowball sampling, terdiri dari 16 peternak yang menjual kelinci hidup dan 17 peternak yang menjual kelinci hidup serta karkas. Analisis produksi dan pendapatan   dilanjutkan Uji independent sample t-test untuk perbedaan antar kelompok. Risiko diukur menggunakan koefisien variasi (KV), dengan KV < 1> 1 menunjukkan risiko tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk karkas dan fillet hanya dihasilkan oleh kelompok peternak yang menjual kelinci hidup dan karkas, dengan rata-rata produksi sebesar 0,05 kg/ekor/bulan untuk karkas dan 0,04 kg/ekor/bulan untuk fillet. Produksi kelinci hidup dihasilkan oleh kedua kelompok, yakni 0,08 ekor/ekor/bulan pada kelompok kelinci hidup dan 0,07 ekor/ekor/bulan pada kelompok kelinci hidup dan karkas. Hasil uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada produksi kelinci hidup antar kedua kelompok (p > 0,05), yang mengindikasikan efisiensi produksi relatif serupa. Pendapatan usaha juga menunjukkan perbedaan signifikan, di mana kelompok kelinci hidup memperoleh pendapatan sebesar Rp7.675 per ekor per bulan, sedangkan kelompok kelinci hidup dan karkas mencapai Rp12.290 per ekor per bulan (p < 0 xss=removed xss=removed>

Meat rabbits, as a source of animal protein, have the potential to increase rural household income. This study aims to measure production and income, as well as the levels of production and income risk, among two groups of rabbit farmers: those who sell live rabbits and those who sell both live rabbits and carcasses. The research was conducted from January to March 2025 in Semarang Regency. A total of 33 farmers were selected using the snowball sampling technique, consisting of 16 farmers selling live rabbits and 17 farmers selling both live rabbits and carcasses. Production and income were analyzed and compared using an independent sample t-test. Risk levels were assessed using the coefficient of variation (CV), where CV < 1> 1 indicates high risk. The results show that carcass and fillet products were only produced by farmers who sold both live rabbits and carcasses, with average outputs of 0.05 kg/animal/month for carcass and 0.04 kg/animal/month for fillet. Live rabbit production was recorded in both groups, with 0.08 head/head/month for the live-rabbit-only group and 0.07 head/head/month for the combined group. The t-test showed no significant difference in live rabbit production between the two groups (p > 0.05), indicating similar production efficiency. In contrast, income showed a significant difference. Farmers selling live rabbits earned IDR 7,675 per animal per month, while those selling both live rabbits and carcasses earned IDR 12,290 per animal per month (p < 0 xss=removed xss=removed>

Kata Kunci : kelinci pedaging, pendapatan, penerimaan, risiko produksi, risiko pendapatan.

  1. S1-2025-480445-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480445-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480445-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480445-title.pdf