Uji Efek Ekstrak Daun Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) dibandingkan Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L) terhadap Pertumbuhan Candida Albicans ATCC 10231 In Vitro
Fia Pratiwi, Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO.; Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO.
2025 | Skripsi | ILMU KEPERAWATAN GIGI
Candida albicans merupakan jamur oportunistik yang berperan dalam terjadinya denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan. Penggunaan bahan alami sebagai antifungi semakin berkembang, diantaranya daun kenikir (Cosmos caudatus Kunth) dan daun kemangi (Ocimum basilicum L). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efek ekstrak daun kenikir dibandingkan ekstrak daun kemangi terhadap pertumbuhan C. albicans ATCC 10231 in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratoris murni menggunakan uji difusi cakram Kirby-Bauer. Sampel dibagi dalam delapan kelompok, yaitu ekstrak daun kenikir dan daun kemangi masing-masing pada konsentrasi 10%, 12%, dan 15%, kontrol positif (nystatin), dan kontrol negatif (akuades), dengan enam kali pengulangan. Cawan petri diinkubasi 24 jam, suhu 37°C. Diameter zona hambat pertumbuhan C. albicans diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis dengan uji One-way ANOVA dan uji Post-Hoc Tukey Honestly Significant Difference (HSD) pada p<0>
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi konsentrasi 15% menghasilkan diameter zona hambat tertinggi (3,74 ± 0,91 mm), sedangkan ekstrak daun kenikir konsentrasi 15% (2,67 ± 0,86 mm). Hasil uji One-way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (p<0>C. albicans. Hasil uji Post-Hoc Tukey Honestly Significant Difference (HSD), ekstrak kemangi 15% menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kenikir 10?n 12%, tetapi setara secara statistik dengan ekstrak daun kenikir 15%. Kesimpulan penelitian ini bahwa ekstrak daun kemangi setara efektif dengan ekstrak daun kenikir dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans pada konsentrasi 15%.
Candida albicans is known as an opportunistic fungus that plays a role in the occurrence of denture stomatitis in partial denture wearers. The use of natural antifungal agents has increasingly developed, including Cosmos caudatus Kunth (kenikir) and Ocimum basilicum L (kemangi). This study was aimed to determine the difference in the effects of kenikir leaf extract compared to kemangi leaf extract on the growth of Candida albicans ATCC 10231 in vitro. A true laboratory experimental method using the Kirby-bauer disk diffusion test was employed. Samples were divided into eight groups, consisting of kenikir and kemangi leaf extracts at concentrations of 10%, 12%, and 15%, a positive control (nystatin), and a negative control (aquades), each repeated six times. Petri dishes were incubated for 24 hours at 37°C. The inhibition zone diameter of C. albicans growth was measured using a caliper and analyzed by One-way ANOVA and Post-hoc Tukey Honestly Significant Difference (HSD) test at p<0>
The results showed that 15% kemangi extract produced the highest inhibition zone diameter (3,74 ± 0,91 mm), followed by 15% kenikir extract (2,67 ± 0,86 mm). One-way ANOVA indicated a significant difference (p<0>C. albicans growth. The HSD test showed that 15% kemangi extract had a significantly different effect compared to 10% and 12% kenikir extract, but was statistically equivalent to 15% kenikir extract. It was concluded that kemangi leaf extract was more effective in inhibiting the growth of C. albicans than kenikir leaf extract and had statistically similar inhibitory ability at a concentration 15%.
Kata Kunci : Ekstrak daun kenikir, ekstrak daun kemangi, Candida albicans, penghambatan pertumbuhan C. albicans, denture stomatitis