Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Berobat Rutin Penderita Diabetes di Kapanewon Sleman
Ajeng Qonitah Fadhilah, Muhammad Arif Fahrudin Alfana, S.Si., M.Sc.
2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis tidak menular yang memerlukan pengelolaan jangka panjang melalui pengobatan secara rutin. Kapanewon Sleman merupakan salah satu Kapanewon yang ada di Kabupaten Sleman dengan jumlah penderita diabetes yang tinggi, namun capaian layanan kesehatan masih di bawah 50 persen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita diabetes melitus, menilai tingkat kepatuhan berobat rutin, serta menganalisis pengaruh karakteristik penderita seperti umur, tingkat pendidikan, dan jarak ke fasilitas kesehatan terhadap kepatuhan berobat. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei lapangan. Sebanyak 227 responden yang tersebar di lima kelurahan di Kapanewon Sleman dipilih dengan teknik proportional purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan instrumen kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8), serta pemetaan menggunakan perangkat GPS dan perangkat lunak GIS. Analisis dilakukan secara deskriptif dan analisis korelasi dengan uji Spearman dan Kendall untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok umur lanjut usia, berada pada jenjang pendidikan rendah, dan tinggal dalam jarak yang cukup terjangkau dari fasilitas kesehatan. Tingkat kepatuhan berobat sebagian besar berada pada kategori sedang (40,1 persen) dan rendah (37,4 persen). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa umur memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap kepatuhan berobat (p = 0,016). Tingkat pendidikan memiliki hubungan yang negatif sedangkan jarak memiliki hubungan yang positif terhadap kepatuhan berobat. Namun keduanya memiliki nilai yang sangat lemah serta tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan berobat rutin. Temuan ini penting dapat bermanfaat sebagai dasar perencanaan peningkatan kesehatan berbasis wilayah dengan mempertimbangkan faktor spasial dan demografi.
Diabetes mellitus is a chronic non-communicable disease that requires long-term management through regular treatment. Sleman District is one of the sub-districts in Sleman Regency with a high number of diabetes cases, yet the coverage of healthcare services remains below 50 percent. This study aims to identify the profile of diabetes mellitus patients, assess their level of routine treatment adherence, and analyze the influence of patient characteristics—such as age, education level, and distance to healthcare facilities—on treatment adherence. The study was conducted using a quantitative approach through a field survey method. A total of 227 respondents from five sub-districts in Sleman were selected using proportional purposive sampling. Data were collected through interviews using the MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) questionnaire, and spatial data were obtained using GPS devices and GIS software. The data were analyzed descriptively and through correlation tests using Spearman and Kendall to determine the relationships among variables. The results showed that most respondents were in the elderly age group, had low levels of education, and lived within relatively accessible distances from healthcare facilities. The majority of respondents had moderate (40.1 percent) and low (37.4 percent) levels of treatment adherence. Correlation analysis revealed that age had a positive and significant relationship with treatment adherence (p = 0.016). Education level had a negative relationship, while distance had a positive relationship with treatment adherence. However, both showed very weak correlations and were not statistically significant. These findings are important as they can serve as a basis for planning region-based health improvement strategies by considering spatial and demographic factors.
Kata Kunci : diabetes melitus, kepatuhan berobat, profil penderita