Analisis Spasio Temporal Prevalensi Stunting di Kabupaten Gresik
Talitha Zakiah Sastrapraja, Muhammad Arif Fahrudin Alfana, S.Si., M.Sc.
2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
Stunting merupakan masalah kesehatan
yang terjadi akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang yang ditandai tinggi
badan anak lebih rendah dari standar usianya. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya target RPJMN
2020–2024 yang menetapkan angka prevalensi stunting nasional turun hingga 14%.
Kabupaten Gresik masih mencatatkan angka prevalensi sebesar 15,4% pada tahun
2023 yang menunjukkan perlunya pendekatan spasial untuk mengidentifikasi
wilayah prioritas penanganan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)
Mendeskripsikan distribusi spasial dan zona hotspot-coldspot
prevalensi stunting di Kabupaten Gresik menggunakan analisis autokorelasi
spasial, (2) Menganalisis perubahan temporal selama tahun 2023–2024.
Data yang
digunakan berupa data sekunder jumlah balita usia 0–59 bulan yang mengalami
stunting (<–2 SD) pada 18 kecamatan dan 398 wilayah desa. Unit analisis
adalah wilayah administrasi desa. Analisis spasial dilakukan menggunakan
software GeoDa dengan metode Moran’s I global dan Local Indicators of
Spatial Association (LISA). Matriks pembobot spasial dibentuk menggunakan
pendekatan Queen Contiguity yang mempertimbangkan keterhubungan batas
antar kecamatan.
Hasil analisis
menunjukkan nilai Moran’s I sebesar 0,414 pada tahun 2023 dan 0,2789
pada tahun 2024, dengan nilai signifikansi < 0>scatterplot LISA menunjukkan mayoritas kecamatan berada pada kuadran I (High-High)
dan kuadran III (Low-Low), yang mengindikasikan adanya klaster spasial
signifikan. Zona hotspot (High-High) tersebar di Gresik bagian
selatan seperti Kecamatan Cerme, Benjeng, Kedamean, Balongpanggang serta di
Pulau Bawean (Kecamatan Tambak dan Sangkapura). Sementara itu, zona coldspot
(Low-Low) berada di wilayah tengah dan utara Gresik seperti Kecamatan
Gresik, Kebomas, dan Manyar. Hal ini sejalan adanya faktor faktor pendukung
seperti akses fasilitas kesehatan dan tingkat pencemaran di wilayah tersebut. Pada
analisis temporal, terjadi peningkatan jumlah zona Low-Low dari tahun ke
tahun yang menunjukkan adanya perbaikan di beberapa desa, namun zona High-High
masih tetap muncul secara konsisten di wilayah selatan Gresik dan Pulau Bawean.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pergeseran positif, konsentrasi
spasial prevalensi tinggi masih bertahan di sejumlah desa dan tetap memerlukan
intervensi kebijakan yang bersifat spesifik wilayah.
Stunting is a chronic health condition caused by long-term nutritional deficiencies, characterized by a child’s height being significantly below the standard for their age. This study is motivated by the 2020–2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN), which targets a national stunting prevalence rate reduction to 14%. Gresik Regency still recorded a prevalence rate of 15.4% in 2023, indicating the need for a spatial approach to identify priority areas for intervention. This study aims to: (1) Describe the spatial distribution and hotspot-coldspot zones of stunting prevalence in Gresik Regency using spatial autocorrelation analysis, and (2) Analyze temporal changes during the period 2023–2024.
The study uses secondary data on children aged 0–59 months with stunting (<–2 SD) across 18 sub-districts and 398 villages. The unit of analysis is the village administrative area. Spatial analysis was conducted using GeoDa software with Global Moran’s I and Local Indicators of Spatial Association (LISA) methods. A spatial weight matrix was constructed using the Queen Contiguity approach, which considers boundary connectivity between administrative areas.
The results show
a Moran’s I value of 0.414 in 2023 and 0.2789 in 2024, with significance values
< 0>
Kata Kunci : Spasio-temporal, Indeks Moran, LISA, Hotspot-coldspot Prevalensi Stunting