Female Agency in Fair Rosaline Through the Lens of Braidotti’s ‘Mothers, Monsters, and Machines’ and ‘Nomadic Subjectivity’
Glory Emanuelle, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum.
2025 | Skripsi | SASTRA INGGRIS
Fair Rosaline karya Natasha Solomons dapat dipahami sebagai penafsiran ulang feminis dari Romeo dan Juliet karya Shakespeare, yang diceritakan dari sudut pandang karakter yang terpinggirkan dan secara simbolis terhapus dalam teks aslinya. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Rosi Braidotti tentang 'Ibu, Monster, dan Mesin,' bersama dengan konsep Subjektivitas Nomaden, seperti yang diartikulasikan dalam Nomadic Subjects, untuk mengkaji bagaimana karakter Rosaline merefleksikan sekaligus merombak arketipe tersebut secara bersamaan, memposisikannya sebagai subjek nomaden yang identitasnya berubah-ubah, adaptif, dan relasional. Perkembangan karakter Rosaline memperlihatkan pergeseran dari kepolosan masa muda menuju bentuk agensi yang lebih tegas, yang dicapai melalui negosiasi berbagai posisi subjek yang kerap kali saling bertentangan. Secara signifikan, agensi Rosaline tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan bersifat kondisional-tergantung pada kesediaannya untuk dimonstrifikasi dan dimekanisasi di dalam kekang patriarki.
Dengan kata lain, reinterpretasi yang dilakukan Solomons berkelindan dengan wacana feminis yang lebih luas mengenai subjektivitas perempuan sebagai proses menjadi yang dinamis, yang dibentuk melalui perlawanan, negosiasi etism dan aprorpriasi strategis terhadap kerangka naratif yang membatasi. Dengan demikian, novel ini menantang batasa-batasan yang selama ini diberikan kepada karakter perempuan dalam literatur kanonik, sekaligus berpartisipasi dalam proyek sastra feminis yang lebih luas yang berusaha menata ulang dan memperkuat suara-suara perempuan yang terpinggirkan secara historis. Dengan memposisikan kembali karakter yang sebelumnya terabaikan sebagai pusan narasi, Fair Rosaline menggarisbawahi signifikansi politis dan etis dalam merebut kembali narasi perempuan dan menata ulang makna yang telah diturunkan dalam tradisi sastra.
Natasha Solomons' Fair Rosaline can be understood as a feminist reimagining of Shakespeare's Romeo and Juliet, narrated from the perspective of a character marginalized and symbolically erased in the original text. This thesis applies Rosi Braidotti's theoretical frameworks of Mothers, Monsters, and Machines alongside her concept of Nomadic Subjectivity, as articulated in Nomadic Subject, to examine how Rosaline's character both reflects and subverts traditional archetypes of femininity. Through these lenses, the study reveals that Rosaline embodies all three archetypes simultaneously, positioning her as a nomadic subject whose identity is fluid, adaptive, and relational. Her character development charts a progression from youthful naivety to assertive agency, achieved through the negotiation of multiple, often conflicting subject positions. Significantly, Rosaline's agency is not freely granted but conditionally afforded-contigent upon her willingness to be monstrified and machinized within patriarchal constraints.
Ultimately, Solomons' reinterpretation engages broader feminist discourses concerning female subjectivity as a dynamic process of becoming, shaped by resistance, ethical negotiation, and strategic reappropriation of restrictive narrative frameworks. In doing so, the novel challenges the enduring limitations placed upon female characters in canonical literature, while also participating in a wider feminist literary project that seeks to reimagine and amplify the voices of historically marginalized women. By repositioning a previously overlooked character at the narrative's center, Fair Rosaline underscores the political and ethical significance of reclaiming female narratives and reconfiguring inherited tropes within literary tradition.
Kata Kunci : penafsiran ulang feminis, arketipe perempuan, subjektivitas nomadik, agensi perempuan, patriarki