Laporkan Masalah

Transparansi Ungkapan Basa-Basi dalam Penerjemahan Takarir Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia Serial di Netflix Baitu Tahir serta Implikasinya terhadap Kesepadanan Tekstual dan Kontekstual

Alfina Robi'ah Adawiyah, Dr. Arief Ma'nawi, S.S., M. Hum

2025 | Tesis | S2 Linguistik

Dalam komunikasi lintas budaya, basa-basi bukan sekedar pemanis bahasa, melainkan cerminan norma sosial dan nilai kesopanan masyarakat penuturnya. Namun ketika ungkapan semacam ini diterjemahkan dalam media audiovisual seperti takarir (subtitle), tantangan muncul karena perbedaan sistem budaya dan ekspresi pragmatik. Sejalan dengan fakta tersebut, penelitian ini mengkaji transparansi ungkapan basa-basi dalam takarir bahasa Indonesia pada serial berbahasa Arab Baitu Tahir yang ditayangkan di Netflix. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana ungkapan basa-basi yang muncul dalam tuturan bahasa Arab dapat diterjemahkan secara padan ke dalam bahasa Indonesia, serta menilai implikasi dari penerjemahan tersebut terhadap kesepadanan tekstual. Dalam penelitian ini diterapkan teori basa-basi oleh Arimi diperkuat dengan teori Hymes, teori Audiovisual Translation (AVT) oleh Gottlieb, teori transparansi Venuti, serta teori kesepadan tekstual dan kontekstual oleh Baker. Data berupa yang berupa kata, frasa, dan/atau kalimat yang mengandung ungkapan basa-basi dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik komparatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa prinsip transparansi menjadi pendekatan utama dalam proses penerjemahan takarir yang dianalisis. Transparansi dalam konteks ini merujuk pada upaya penerjemah untuk menghasilkan teks terjemahan yang mudah dipahami, alami, dan tidak terasa asing bagi audiens bahasa target namun tetap bisa mentransfer nilai budaya dari bahasa sumber. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi domestikasi seperti paraphrase, condensation, decimation, expansion, dan dislocation menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap koherensi tekstual dalam takarir. Namun, strategi-strategi tersebut dapat menimbulkan tantangan dalam mempertahankan nuansa emosional atau ekspresi budaya tertentu. Meski strategi ini menjaga struktur koheren dan kejelasan pesan, ada risiko hilangnya kekayaan budaya atau afektif yang melekat pada ujaran sumber.

In cross-cultural communication, phatic expression is more than mere linguistic ornamentation; it reflects the underlying social norms and politeness values of the speaker's cultural community. However, translating such culturally embedded expressions in audiovisual media-particularly in subtitles-presents significant challenges due to differences in cultural frameworks and pragmatic conventions. This study investigates the transparency of phatic expressions in the Indonesia subtitles of the Arabic-language Netflix series Baitu Tahir. Specifically, it aims to evaluate the degree to which Arabic small talk utterances are rendered equivalently in Indonesian and to analyze the implications of such translations for textual equivalence. This study applies Arimi's theory of phatic communication and supported by Hymes' theory, Gottlieb's theory of Audiovisual Translation (AVT), Venuti's concept of transparency, and Baker's theory of textual and contextual equivalence. The data, comprising words, phrases, and/or sentences containing small talk expressions were analyzed using a qualitative and descriptive approach in conjunction with a comparative technique. The findings reveal that transparency serves as a guiding principle in the subtitling strategies employed. In this context, transparency refers to the translator's effort to produce subtitles that are clear, natural-sounding, and culturally accessible to the target audience and however, it must still be able to transfer the cultural values of the source language. The analysis indicates that the application of domestication strategies-such as paraphrasing, condensation, decimation, expansion, and dislocation-contributes significantly to textual coherence in the target language. Nevertheless, these strategies may also pose challenges in retaining the emotional nuances or culturally specific expressions present in the source language. While such approaches enhance structural clarity and message delivery, they carry the risk of diminishing the cultural and affective depth intrinsic to the original utterances.

Kata Kunci : Baitu Tahir, basa-basi, Netflix, takarir, transparansi

  1. S2-2025-527314-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527314-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527314-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527314-title.pdf