Pengembangan Integrated Farming Based Agribusiness Kawasan Wisata Gastronomi Warisan Budaya Takbenda Sate Klathak di Kalurahan Wonokromo, Pleret, Bantul
Rona Salsabila, Widyasari Her Nugrahandika, S.T., M.Sc.
2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Wisata gastronomi diakui sebagai "pasar wisata berkembang"
sejak tahun 2014. Wisata gastronomi memadukan pengalaman budaya, proses
pengolahan makanan, dan nilai lokal sebagai bagian dari wisata kreatif. Sektor
ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terbukti dari kontribusinya
terhadap GDP Thailand sebesar 1-2% selama pandemi COVID-19 dan mampu memberikan
manfaat dari hulu hingga hilir industri gastronomi. Di Indonesia, sektor
pariwisata dan ekonomi kreatif menyumbang 2,23?n 7,35% terhadap PDB nasional
pada 2020, dengan subsektor kuliner sebagai kontributor utama. Di tingkat
kabupaten, sektor akomodasi dan makan minum menyumbang 11,3% terhadap PDRB
Kabupaten Bantul pada 2023.
Kalurahan Wonokromo, Pleret, Bantul memiliki potensi alam dan budaya
yang besar, termasuk Sate Klathak yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya
Takbenda (WBTb) Indonesia. Namun, pelestarian dan pengembangan kuliner ini
belum optimal ditambah dengan belum terpenuhinya sarana prasarana lingkungan
yang berdampak pada penurunan daya tarik wisata kuliner WBTb Sate Klathak dan
degradasi lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan kawasan secara
menyeluruh berupa pengembangan integrated farming based agribusiness
kawasan wisata gastronomi WBTb Sate Klathak.
Perencanaan ini
bertujuan mengembangkan kawasan agar lebih optimal dalam endukung pelestarian
budaya dan lingkungan, edukasi, pemanfaatan sumber daya lokal, serta
peningkatan ekonomi masyarakat. Unit amatan perencanaan ini meliputi zonasi,
aksesibilitas, konservasi, fasilitas, bangunan, penanda, dan informasi, serta
kelembagaan yang dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif, gap
analysis, benchmarking, dan multicriteria decision making
analysis (MCDMA). Perencanaan kawasan ini dikonseptualisasi dengan empat
nilai terapan yaitu educational, integrated agriculture supply system,
circular waste management, serta community participation,
collaboration, and empowerment, kemudian dikembangkan dengan metode SCAMPER
yang menghasilkan dua alternatif rencana, yaitu Edu-Centered Gastronomy
Tourism dan Integrated Agro-Gastronomy Tourism. Hasil penilaian
dengan performance matrix menunjukkan alternatif Integrated Agro-Gastronomy
Tourism sebagai pilihan terbaik yang kemudian didetailkan dalam masterplan
pengembangan integrated farming based agribusiness kawasan wisata
gastronomi WBTb Sate Klathak di Kalurahan Wonokromo, Pleret, Bantul.
Gastronomic tourism has been recognized as an "emerging
tourism market" since 2014, integrating cultural experiences, food
processing methods, and local values as part of creative tourism. This sector
provides significant economic impact, evidenced by its contribution of 1-2% to
Thailand's GDP during the COVID-19 pandemic and its ability to generate
benefits across the entire gastronomic industry value chain. In Indonesia, the
tourism and creative economy sectors contributed 2.23% and 7.35% respectively
to the national GDP in 2020, with the culinary subsector serving as the primary
contributor. At the regional level, the accommodation and food services sector
contributed 11.3% to Bantul Regency's GDP in 2023.
Wonokromo Village, Pleret, Bantul possesses
substantial natural and cultural potential, including Sate Klathak, which has
been designated as Indonesia's Intangible Cultural Heritage (ICH). However, the
preservation and development of this culinary heritage remains suboptimal,
compounded by inadequate environmental infrastructure that has resulted in
declining attractiveness of ICH Sate Klathak culinary tourism and environmental
degradation. Therefore, comprehensive area planning is necessary through the
development of integrated farming-based agribusiness for ICH Sate Klathak
gastronomic tourism area.
This planning aims to develop the area for optimal support of cultural and environmental preservation, education, local resource utilization, and community economic enhancement. The analytical units of this planning include zoning, accessibility, conservation, facilities, buildings, landmarks and information systems, and institutional aspects, analyzed through qualitative descriptive methods, gap analysis, benchmarking, and multicriteria decision-making analysis (MCDMA). The area planning is conceptualized through four applied values: educational, integrated agriculture supply system, circular waste management, and community participation, collaboration, and empowerment. It is subsequently developed using the SCAMPER method, generating two alternative plans: Edu-Centered Gastronomy Tourism and Integrated Agro-Gastronomy Tourism. Performance matrix evaluation results indicate the Integrated Agro-Gastronomy Tourism alternative as the optimal choice, which is then detailed in the masterplan for developing integrated farming-based agribusiness ICH Sate Klathak gastronomic tourism area in Wonokromo Village, Pleret, Bantul.
Kata Kunci : Gastronomic Tourism, Intangible Cultural Heritage, Integrated Farming, Sate Klathak, Wonokromo Village