Potensi Ekstrak Daun Saga Rambat (Abrus precatorius L.) Terhadap Efek Hemoragis dan Histopatologis Venom Ular Trimeresurus insularis Kramer, 1977
Maftuhatus Sa'diyah, Dr. Fajar Sofyantoro, S.S., M.Sc.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Kasus kematian
akibat gigitan ular berbisa, khususnya di Indonesia memiliki angka yang cukup
tinggi. Penanganan gigitan ular adalah dengan pemberian antivenom. Akan tetapi,
pemberian antivenom ini beresiko menimbulkan reaksi alergi dan juga
ketersediaan dan keterbatasan produksi. Saat ini, penanganan gigitan ular
berbisa difokuskan pada potensi ekstrak tanaman. Abrus precatorius atau
Saga Rambat merupakan salah satu tanaman tradisional yang mudah ditemukan di
Indonesia dan terkenal akan khasiatnya yang mengandung antioksidan tinggi yang
berpotensi sebagai antihemotoksin pada bisa ular. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui potensi ekstrak daun Saga Rambat dalam menetralisir efek venom
ular Trimeresurus insularis. Uji hemoragik dilakukan secara in vivo
untuk menunjukkan bahwa Minimum Hemorrhagic Dose (MHD) venom T.
insularis adalah sebesar 8,4 µg. Uji netralisasi terbagi ke dalam beberapa
perlakuan yang diuji secara in vivo dan diinjeksi dengan venom (dosis 2xMHD)
yang dikombinasikan dengan ekstrak tanaman pada konsentrasi 20MHD, 50MHD, atau
100MHD. Evaluasi dilakukan terhadap lesi hemoragik makroskopis dan mikroskopis,
serta parameter histopatologis seperti ketebalan lapisan kulit, infiltrasi
eritrosit, jumlah sel inflamasi, dan degradasi kolagen. Hasil menunjukkan bahwa
ekstrak pada konsentrasi tinggi (100MHD) tidak mampu mereduksi efek toksik
venom dan justru memperparah inflamasi serta degradasi kolagen. Sebaliknya,
konsentrasi rendah (20MHD) menunjukkan respons jaringan yang lebih ringan.
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa meskipun ekstrak A. Precatorius
memiliki potensi sebagai agen protektif terhadap kerusakan akibat venom ular,
penggunaannya harus memperhatikan dosis yang aman karena potensi toksisitas
senyawa yang ada di dalam ekstrak. Penelitian lanjut diperlukan untuk
memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan Saga Rambat dalam pengembangan
terapi penunjang antibisa.
Cases of death caused by venomous snakebites,
particularly in Indonesia, remain relatively high. The primary treatment for
snakebites is the administration of antivenom. However, antivenom use carries
the risk of allergic reactions, as well as challenges related to availability
and limited production. Currently, the treatment of venomous snakebites is
shifting toward the potential of plant extracts. Abrus precatorius, commonly
known as Saga Rambat, is a traditional plant easily found in Indonesia, known
for its high antioxidant content and potential as an antihemotoxic agent
against snake venom. This study aims to investigate the potential of Saga
Rambat leaf extract in neutralizing the effects of Trimeresurus insularis
venom. A hemorrhagic assay was conducted in vivo to determine that the Minimum
Hemorrhagic Dose (MHD) of T. insularis venom is 8.4 µg. The neutralization
assay included several treatments tested in vivo, in which venom (at 2×MHD
dose) was combined with plant extract at concentrations of 20MHD, 50MHD, or
100MHD. Evaluation was performed on both macroscopic and microscopic
hemorrhagic lesions, as well as histopathological parameters such as skin layer
thickness, erythrocyte infiltration, number of inflammatory cells, and collagen
degradation. The results showed that the extract at high concentration (100MHD)
did not reduce the toxic effects of the venom and instead worsened inflammation
and collagen degradation. In contrast, the low concentration (20MHD) resulted
in milder tissue responses. These findings indicate that although A.
precatorius extract has potential as a protective agent against venom-induced
damage, its use must consider safe dosage due to the potential toxicity of
compounds present in the extract. Further research is necessary to confirm the
efficacy and safety of Saga Rambat in the development of supportive antivenom
therapy.
Kata Kunci : Abrus precatorius, Ekstrak Daun Saga Rambat, Hemoragik, Minimum Hemorrhagic Dose (MHD), Trimeresurus insularis