Peran Kelompok dalam Pembentukan Rasionalitas Petani dan Implikasinya terhadap Kapasitas Usaha Tani di Kelurahan Kenep, Kabupaten Sukoharjo
Awanda Febriyanti, Prof. Dr. Janianton Damanik, M.Si.
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Kelompok tani merupakan wadah strategis dalam pemberdayaan petani yang difasilitasi oleh pemerintah untuk meningkatkan kapasitas dalam mengelola usaha tani. Namun dalam implementasinya, keberadaan kelompok tani belum diiringi dengan peningkatan kualitas, sehingga masih menghadapi kendala untuk menjalankan fungsi dan secara optimal. Padahal kelompok tani berpotensi menjadi ruang untuk melakukan pertukaran informasi, adopsi teknologi, dan pemecahan masalah secara kolektif, yang memainkan peran dalam pembentukan pola pikir petani, dari sistem tradisional menuju rasionalitas berbasis pertimbangan keuntungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran kelompok dalam pembentukan rasionalitas petani dan implikasinya terhadap kapasitas usaha tani di Kelurahan Kenep, Kabupaten Sukoharjo.
Penelitian ini menggunakan konsep petani rasional oleh Popkin dan konsep rasionalitas terbatas oleh Simon yang dikaji melalui tiga peran kelompok tani yang tercantum dalam Peraturan Menteri Nomor 82 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani, yaitu sebagai kelas belajar, wahana kerjasama, serta unit produksi. Sementara itu, implikasi rasionalitas petani terhadap kapasitas usaha tani dijelaskan melalui indikator kapasitas teknis, kapasitas manajerial, dan kapasitas sosial dari Subagio. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan unit analisis Kelompok Tani “Marsudi Pangan”. Data diperoleh melalui melalui observasi, wawancara mendalam dengan berbagai pihak terkait, serta dokumentasi terhadap sumber yang relevan. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan memilih informan yang diyakini mampu memberikan informasi yang relevan dengan fokus penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kelompok tani berkontribusi dalam pembentukan rasionalitas petani. Sebagai kelas belajar, kelompok belum melakukan pemetaan kebutuhan belajar secara sistematis, namun interaksi informal dan akses informasi eksternal telah mendorong perubahan pola pikir petani. Sebagai wahana kerjasama, rasionalitas dibangun melalui kegiatan kolektif yang dianggap memberikan manfaat lebih, walaupun kerjasama eksternal masih terbatas. Sebagai unit produksi, kelompok mampu memfasilitasi sarana produksi pertanian yang mendukung usaha tani, tetapi belum mengembangkan sistem pemasaran kolektif. Rasionalitas yang terbentuk mendorong peningkatan kapasitas teknis, manajerial, dan sosial yang lebih adaptif dan efisien, meskipun masih diperlukan penguatan pada aspek pemasaran dan jejaring eksternal.
Farmer groups are a strategic platform in empowering farmers, facilitated by the government to enhance their capacity to managing agricultural enterprises. However, in its implementation, the existence of farmer groups has not been accompanied by an improvement in quality, leading to challenges in optimizing their functions. Despite this, farmer groups have the potential to serve as a space for information exchange, technology adoption, and collective problem solving, which plays a role in shaping farmers' ways of thinking, from traditional systems to rationality grounded profit-based considerations. Therefore, this study aims to explain the role of farmer groups in shaping farmers' rationality and its implications for the agriculture enterprises capacity in Kenep Village, Sukoharjo Regency.
This study uses the concept of rational farmers by Popkin and bounded rationality by Simon, analyzed through the three roles of farmer groups outlined in Peraturan Menteri Nomor 82 on Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani, namely as learning classes, cooperation platforms, and production units. Meanwhile, the implications of farmers' rationality on agriculture enterprises capacity are explained through the indicators of technical capacity, managerial capacity, and social capacity from Subagio. This research was conducted using a descriptive qualitative approach with the "Marsudi Pangan" as the unit of analysis. Data were collected through observation, in-depth interview with relevant stakeholders, and documentation of pertinent sources. Informants were selected using purposive sampling, targeting individuals deemed capable of providing information relevant to the research focus.
The results show that farmer groups contribute to shaping farmers' rationality. As a learning class, the group has not systematically mapped learning needs, however informal interactions and access to external information have encouraged changes in farmers' ways of thinking. As a collaborative space, rationality is developed through collective activities that are perceived as more beneficial, although external cooperation remains limited. As a production unit, the group effectively facilitates agricultural production resources but has yet to develop a collective marketing system. The rationality formed has led to improvements in technical, managerial, and social capacities that are more adaptive and efficient, although further strengthening of marketing and expanding external networking is necessary.
Kata Kunci : Kelompok tani, rasionalitas petani, kapasitas usaha tani, pemberdayaan