MENALAR STUNTING MELALUI PERSPEKTIF KEIBUAN (STUDI KASUS PENGALAMAN PEREMPUAN DENGAN ANAK STUNTING DI DESA PLERET, KECAMATAN PANJATAN, KABUPATEN KULON PROGO)
Erica Rich Ratantri, Milda Longgeita Br. Pinem, S.Sos., M.A., Ph.D.
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Pembahasan terkait stunting sering dikaitkan dengan peran perempuan, baik itu peran biologis maupun peran konstruktif. Hal tersebut terlihat dari berbagai standar dan tuntutan yang menyelimuti perempuan untuk dapat menyandang sebutan “ibu yang baik”. Dalam perkembangannya, banyak penelitian yang mengaitkan stunting dengan kualitas dan kapabilitas perempuan sebagai ibu, seperti tingkat pendidikan (Rahayu & Khairiyati, 2014); pola asuh ibu atau maternal parenting (Noorhasanah & Tauhidah, 2021; Yunitasari, et.al., 2021); pengetahuan ibu terkait gizi bayi (Hapsari & Ichsan, 2021); hingga kondisi ibu yang bekerja atau working mother (Supadmi, et.al., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa fenomena stunting tidak hanya semata-mata permasalahan dalam tumbuh kembang anak, tetapi memiliki implikasi negatif atas konstruksi keibuan. Untuk mengelaborasi topik ini, peneliti menggunakan perspektif interaksional dari Kimberle Crenshaw untuk memberikan gambaran yang menyeluruh terhadap aspek yang menciptakan sebuah pengalaman perempuan serta menunjukkan aspek keberdayaan agensi perempuan dalam potret situasi yang tidak menguntungkan (unprivileged).
Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang yang terdiri dari lima informan utama dan dua informan pendukung. Informan utama adalah perempuan yang memiliki anak stunting yang tinggal di Desa Pleret, sedangkan informan pendukung terdiri dari Koordinator Posyandu di Desa Pleret dan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kulon Progo. Informan utama berperan memberikan gambaran pengalaman mereka sebagai perempuan dengan anak stunting dengan melihat aspek penyusun dalam identitas perempuan tersebut. Informan pendukung sendiri berperan untuk memberikan gambaran akan konteks masyarakat serta realita yang terjadi secara lebih makro sehingga pembahasan dalam penelitian ini dapat lebih holistik dan tetap memegang nilai objektivitas. Pengumpulan data pada riset ini menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta studi literatur. Kemudian data dianalisis secara tematik dan menghasilkan temuan pokok, antara lain: (1) konteks sosial budaya dan perkembangan stunting di Desa Pleret serta (2) kompleksitas aspek penyusun dalam pengalaman perempuan yang meliputi pengalaman keibuan. Dalam pembahasan tersebut akan tergambarkan bahwa pengalaman keibuan perempuan dengan anak stunting tidaklah semata-mata berdiri sendiri, melainkan terdiri dari berbagai lapisan aspek penyusun yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Analisis yang mendalam pada pengalaman keibuan perempuan dengan anak stunting akan membawa pada sebuah titik balik yang menunjukkan sifat tanggung jawab dari agensi perempuan itu sendiri. Melalui narasi pengalaman cerita perempuan-perempuan dalam menjadi ibu tidak hanya menyajikan sisi “penderitaan”, namun juga menunjukkan aspek keberdayaan mereka untuk bangkit dari situasi yang memarjinalkan mereka. Kemudian, pada akhir pembahasan akan disajikan sebuah kesimpulan, saran, limitasi, serta catatan refleksi dari peneliti.
Discussions related to stunting are often associated with the role of women, both biological and constructive roles. This can be seen from the various standards and demands that surround women to be able to bear the title “good mother”. In its development, many studies have linked stunting to the quality and capabilities of women as mothers, such as education level (Rahayu & Khairiyati, 2014); maternal parenting (Noorhasanah & Tauhidah, 2021; Yunitasari, et.al., 2021); maternal knowledge related to infant nutrition (Hapsari & Ichsan, 2021); to the condition of working mothers (Supadmi, et.al., 2024). This shows that the phenomenon of stunting is not only a problem in child development, but has negative implications for the construction of motherhood. To elaborate on this topic, the researcher used Kimberle Crenshaw's interactional perspective to provide a comprehensive picture of the aspects that create a woman's experience and show aspects of women's agency in portraying unfavorable situations (unprivileged).
There were seven informants in this study, consisting of five main informants and two supporting informants. The main informants are women with stunted children who live in Pleret Village, while the supporting informants consist of the Posyandu Coordinator in Pleret Village and the Head of Public Health at the Kulon Progo Health Office. The main informants play a role in describing their experiences as women with stunted children by looking at the constituent aspects of the woman's identity. Supporting informants themselves play a role in providing an overview of the community context and the realities that occur more macro so that the discussion in this study can be more holistic and still hold the value of objectivity. Data collection in this research uses in-depth interview techniques, observation, documentation, and literature study. Then the data was analyzed thematically and produced the main findings, including: (1) the socio-cultural context and the development of stunting in Pleret Village and (2) the complexity of constituent aspects in women's experiences, which include the experience of motherhood. The discussion will illustrate that the maternal experience of women with stunted children does not stand alone, but consists of various layers of constituent aspects that are interrelated and cannot be separated. An in-depth analysis of the maternal experience of women with stunted children will lead to a turning point that shows the responsible nature of women's agency itself. Through the narratives of women's experiences in motherhood, it not only presents the “suffering” side, but also shows aspects of their empowerment to rise from situations that marginalize them. Then, at the end of the discussion, a conclusion, suggestions, limitations, and notes of reflection from the researcher will be presented.
Kata Kunci : Konstruksi keibuan, stunting, pemberdayaan perempuan, gender, interseksional