Laporkan Masalah

Kejadian Nematodiasis dan Faktor Risikonya pada Usaha Budi Daya Marmut (Cavia porcellus)

Rosita Dewi Cahyani, Prof. Dr. drh. Irkham Widiyono

2025 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN

Infeksi nematoda gastrointestinal (nematodiasis) merupakan ancaman serius bagi kesehatan dan produktivitas marmut (Cavia porcellus) yang dibudidayakan. Namun tingkat kejadian serta faktor risikonya pada usaha budi daya marmut di Indonesia masih belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infeksi serta pengaruh faktor jenis pakan, jenis marmut, umur, dan jenis kelamin terhadap kejadian infeksi nematoda gastrointestinal. Penelitian ini dilakukan pada usaha budi daya marmut skala kecil di Yogyakarta, Klaten, dan Magelang. Sampel feses dari 50 ekor marmut diambil dan diperiksa secara mikroskopis menggunakan metode Whitlock. Analisis data dilakukan dengan chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejadian infeksi mencapai 36% (18/50), dengan Ascaris sp. sebagai spesies paling dominan (32%), dan diikuti oleh Paraspidodera sp. (8%). Jenis pakan dan jenis marmut menunjukkan pengaruh signifikan terhadap tingkat infeksi (p < 0> 0,05). Marmut yang diberi pakan rumput lapangan memiliki tingkat infeksi lebih tinggi (45%) dibandingkan dengan marmut yang diberi pelet (0%). Marmut lokal juga menunjukkan tingkat infeksi lebih tinggi (53%) dibandingkan marmut hias (6%). Sebagian besar infeksi tergolong dalam derajat infeksi sedang (72,2%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pakan dan jenis marmut merupakan faktor risiko utama dalam kejadian nematodiasis. Tindakan perbaikan manajemen pemeliharaan dan kesehatan diperlukan untuk memberantas infeksi nematoda gastrointestinal pada usaha budi daya marmut.

Gastrointestinal nematode infections (nematodiasis) pose a serious threat to the health and productivity of farmed guinea pigs (Cavia porcellus). However, the incidence rate and risk factors for these infections on guinea pig farms in Indonesia are largely unknown. This study aimed to determine the infection rate and how factors such as feed type, guinea pig breed, sex, and age influence the incidence of gastrointestinal nematode infections. The study was conducted on small-scale farms in Yogyakarta, Klaten, and Magelang. Fecal samples from 50 guinea pigs were collected and examined microscopically using the Whitlock method. Data analysis was performed using the chi-square test. The results showed an infection rate of 36% (18/50), with Ascaris sp. as the dominant species at 32%, followed by Paraspidodera sp. at 8%. Most infections were classified as moderate (72.2%). Guinea pigs fed field grass had a higher infection rate (45%) than those fed pellets (0%). Local guinea pigs also exhibited higher infection rates (53%) than ornamental guinea pigs (6%). Feed type and guinea pig breed significantly influenced infection rates (p < 0> 0.05). These results indicate that feed type and guinea pig breed are primary risk factors for nematodiasis. Improved management and health practices are necessary to eradicate gastrointestinal nematode infections on guinea pig farms.

Kata Kunci : Ascaris sp., Jenis Marmut, Jenis Pakan, Marmut, Paraspidodera sp.

  1. S1-2025-479499-abstract.pdf  
  2. S1-2025-479499-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-479499-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-479499-title.pdf