DAMPAK LINGKUNGAN INDUSTRI GULA DI PANARUKAN, 1884-1930
Nurul Maghfiroh, Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phill.
2025 | Tesis | S2 Sejarah
Industri gula merupakan salah satu penanda penting dalam sejarah ekonomi kolonial di Jawa, namun di balik kontribusinya terhadap pertumbuhan industri, tersimpan berbagai persoalan lingkungan yang terabaikan. Penelitian ini mengkaji dampak lingkungan industri gula di Panarukan dalam rentang waktu 1884 hingga 1930. Keberadaan industri gula di Panarukan, sejak masa Tanam Paksa hingga menjelang krisis malaise, berperan besar dalam menciptakan perubahan ekologis yang berdampak luas bagi lingkungan dan masyarakat setempat. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam terhadap dinamika industri ini menjadi krusial untuk mengungkap dimensi lingkungan yang kerap tersembunyi dalam narasi sejarah industri kolonial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah lingkungan guna menelaah faktor-faktor yang mendorong timbulnya berbagai permasalahan lingkungan di Panarukan. Konsep environmental history dari Donald Hughes dan environmental impact dari Richard Morgan digunakan sebagai pisau analisis untuk memahami keterkaitan antara proses industrialisasi dan perubahan lingkungan. Metode sejarah kritis diterapkan melalui pemanfaatan dan interpretasi arsip kolonial serta arsip perusahaan, yang hasilnya disajikan dalam bentuk karya historiografi.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran perkebunan tebu dan industri gula di Panarukan tidak hanya menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem, dan kehancuran habitat satwa liar. Lebih jauh, aktivitas industri ini secara tidak langsung ini berkontribusi atas terjadinya bencana alam serta penyebaran berbagai wabah dan penyakit yang mempengaruhi kesehatan penduduk setempat. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya pemahaman kita mengenai dampak ekologis dari industrialisasi kolonial, sekaligus membuka ruang diskusi baru dalam kajian sejarah lingkungan di Indonesia.
The sugar industry stands as a significant hallmark in the history of the colonial economy in Java. However, behind its apparent contribution to industrial development lies a series of overlooked environmental consequences. This study investigates the environmental impact of the sugar industry in Panarukan between 1884 and 1930. From the era of Cultivation System to the onset of the Great Depression, the sugar industry's expansion in Panarukan played a pivotal role in triggering profound ecological transformations that affected both the natural environment and the livelihoods of local communities. Accordingly, a deeper exploration of this industry's dynamics is essential to reveal the often-silenced environmental dimension within the broader narrative of colonial industrial history.
Employing an environmental history approach, this study interrogates the driving forces behind the emergence of various ecological problems in Panarukan. The theoretical framework draws on Donald Hughes’s concept of environmental history and Richard Morgan’s notion of environmental impact, providing analytical tools to trace the interplay between industrialization processes and environmental change. A critical historical method is applied through the examination and interpretation of colonial and corporate archives, culminating in a historiographical account.
The findings demonstrate that the expansion of sugarcane plantations and the sugar industry in Panarukan led not only to biodiversity loss, ecosystem degradation, and the destruction of wildlife habitats, but also indirectly contributed to environmental disasters and the spread of infectious diseases, significantly impacting public health in the region. Ultimately, this study contributes to a more nuanced understanding of the ecological consequences of colonial industrialization and opens new avenues for discourse within the field of Indonesian environmental history.
Kata Kunci : Kata Kunci: Industri Gula, Dampak Lingkungan, Kolonialisme / Keywords: Sugar Industry, Environmental Impact, Colonialism