Laporkan Masalah

PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTIKRITERIA DALAM PEMERINGKATAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DI INDONESIA DENGAN METODE FAHP DAN TOPSIS

Nabila Iffa Amanina, Dr. Adhitya Ronnie Effendie, S.Si., M.Si., M.Sc

2025 | Skripsi | STATISTIKA

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul. Namun, ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia, terutama di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), masih menjadi masalah yang membutuhkan perhatian serius. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pemeringkatan SMA di Indonesia dengan menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multikriteria. Metode yang digunakan adalah Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). FAHP sendiri merupakan pengembangan dari metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode AHP banyak diterapkan dalam pengambilan keputusan multikriteria untuk menentukan bobot dari setiap kriteria yang digunakan. Namun, metode AHP memiliki kelemahan karena sepenuhnya bergantung pada penilaian subjektif para ahli (expert judgement) yang rentan terhadap ketidakpastian dan bias dalam proses pengambilan keputusan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, digunakan FAHP yang mengintegrasikan konsep bilangan segitiga fuzzy (BSF) untuk mengurangi ketidakpastian dan ambiguitas dalam penilaian, sehingga menghasilkan bobot yang lebih objektif dan akurat. Sementara itu, metode TOPSIS digunakan untuk mengurutkan SMA berdasarkan kedekatannya dengan solusi ideal. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Rapor Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2023, yang mencakup lima kriteria utama: kualitas pendidikan, status sosial dan ekonomi sekolah, aksesibilitas, inklusivitas, dan keberagaman serta kesetaraan sosial. Hasil penelitian ini dapat membantu pemangku kebijakan merumuskan strategi peningkatan kualitas pendidikan yang lebih tepat sasaran sehingga mengurangi kesenjangan antar sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Education is a fundamental pillar in building high-quality human resources. However, disparities in the quality of education in Indonesia, particularly at the Senior High School (SMA) level, remain a pressing issue that requires serious attention. This study aims to develop a ranking model for senior high schools in Indonesia using a multi-criteria decision-making approach. The methods employed are the Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) and the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). FAHP is an extension of the Analytical Hierarchy Process (AHP), a method widely applied in multi-criteria decision-making to determine the weight of each criterion. However, AHP has limitations, as it relies entirely on subjective expert judgment, which is prone to uncertainty and bias during the decision-making process. To address these limitations, FAHP incorporates the concept of triangular fuzzy numbers (TFNs) to reduce uncertainty and ambiguity in evaluations, thereby producing more objective and accurate weights. Meanwhile, the TOPSIS method is used to rank schools based on their proximity to the ideal solution. The data used in this study were obtained from the 2023 Education Report by the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology, which includes five main criteria: quality of education, socio-economic status of schools, accessibility, inclusivity, and diversity and social equity. The results of this study are expected to assist policymakers in formulating more targeted strategies to improve education quality, reduce disparities between schools, and enhance the overall standard of education in Indonesia.

Kata Kunci : -

  1. S1-2025-480996-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480996-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480996-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480996-title.pdf