Upaya Pemetaan Partisipatif Ruang Hidup Masyarakat Adat Baar berbasis Etnografi dalam Menjawab Persoalan Interseksi Manusia-Komodo di Pulau Flores
Ayu Wijayanti, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Aspek manusia dalam upaya konservasi semakin mendapatkan perhatian dan dianggap sebagai bagian penting dalam upaya tersebut. Berbagai pendekatan dari sisi humanis pun gencar dilakukan, termasuk pada upaya konservasi komodo yang ada di sekitar masyarakat adat Baar di Pulau Flores. Selain berada di luar wilayah konservasi, komodo di daerah tersebut juga memiliki permasalahan interseksi dengan manusia melalui hewan ternak. Namun, belum ada kajian spasial yang mengungkapkan permasalahan tersebut. Oleh karena itu, kegiatan ini berusaha untuk menghadirkan data spasial interseksi manusia-komodo di wilayah adat masyarakat Baar melalui pemetaan partisipatif yang dikolaborasikan dengan metode etnografi.
Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa kegiatan pemetaan partisipatif sebagai sebuah instrumen pemberdayaan mampu menyediakan data spasial dan memberikan peta jalan pada masyarakat untuk menemukan solusi atas persoalan interseksi manusia dengan komodo. Selain itu, pemetaan partisipatif ini juga mampu mengidentifikasi persoalan fragmentasi pengetahuan spasial antara laki-laki dan perempuan dewasa yang ditemukan di tengah proses pemetaan. Persoalan tersebut kemudian dijembatani melalui pembacaan ulang peta, sehingga peta berperan sebagai media untuk berbagi pengetahuan spasial dan mengurangi kesenjangan yang telah terjadi. Kontribusi pemetaan partisipatif pun mengalami perkembangan. Tidak hanya menjadi sarana untuk memvisualisasikan pengetahuan lokal dan persoalan interseksi manusia-komodo dalam bentuk peta, tetapi juga memberikan kesadaran ruang melalui pembacaan peta dua dimensi yang membuka wawasan spasial masyarakat adat.
The human aspect in conservation efforts is getting more attention and is considered an important part of the effort. Various approaches from the humanist side have been intensively carried out, including in the komodo dragon conservation efforts around the Baar indigenous community on Flores Island. In addition to being outside the conservation area, the komodo dragon in this area also has problems of intersection with humans through livestock. However, there has been no spatial study that reveals this problem. Therefore, this activity seeks to present spatial data on human-komodo dragon intersection in the Baar indigenous community area through participatory mapping that is collaborated with ethnographic methods. The results of this study indicate that participatory mapping activities as an empowerment instrument can provide spatial data and provide a roadmap for the community to find solutions to the problem of human intersection with komodo dragon. In addition, this participatory mapping is also able to identify the problem of fragmentation of spatial knowledge between men and women that found in the middle of the mapping process. This problem is then bridged through re-reading the map, so the map acts as a medium for sharing spatial knowledge and reducing the gap that has occurred. The contribution of participatory mapping has also developed. Not only to visualize local knowledge and issues of human-Komodo intersection in the form of a map, but it also provides spatial awareness through reading two-dimensional maps that open the spatial insights of indigenous communities.
Kata Kunci : interseksi, fragmentasi pengetahuan, spasial, masyarakat adat, pemetaan partisipatif, pemberdayaan, konservasi