Nama-Nama Makhluk Supernatural di Indonesia
Muhammad Wildan Suyuti, Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Penelitian ini mengkaji nama-nama makhluk supernatural di Indonesia sebagai cerminan kekayaan budaya dan linguistik Nusantara. Meskipun kepercayaan ini bertahan, studi onomastik yang komprehensif masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan nama-nama tersebut, menganalisis maknanya, dan mengidentifikasi faktor sosial-kultural yang memengaruhinya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka teori onomastik dan bentuk representasi supernatural, penelitian ini menganalisis data dari tradisi lisan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan empat klasifikasi utama berdasarkan keserupaan bentuk: antropomorfik (menyerupai manusia), zoomorfik (hewan), amorfik (tanpa bentuk tetap), dan fitomorfik (tumbuhan). Analisis makna mengungkap bahwa penamaan bukan sekadar label, melainkan representasi persepsi tentang ‘yang lain’, relasi manusia-alam, dan konsep supernatural. Ditemukan bahwa faktor-faktor seperti relasi kuasa sebagai kontrol sosial, konstruksi gender, kesadaran ekologis untuk konservasi, serta diversitas linguistik-teritorial secara signifikan membentuk praktik penamaan. Studi ini menyimpulkan bahwa nama-nama makhluk supernatural berfungsi sebagai dokumen budaya yang merekam sistem kepercayaan, nilai, dan kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam memandang alam semesta.
This research explores the names of supernatural beings in Indonesia as a reflection of the archipelago's rich cultural and linguistic diversity. Despite the persistence of these beliefs, comprehensive onomastic studies remain limited. Therefore, this study aims to classify these names, analyze their meanings, and identify the socio-cultural factors influencing them. Using a qualitative approach framed by onomastic theory and the concept of supernatural representational forms, this research analyzes data from oral traditions across Indonesia. The findings reveal four main classifications based on form similarity: anthropomorphic (human-like), zoomorphic (animal-like), amorphic (formless), and phytomorphic (plant-related). The analysis of meaning shows that naming is not merely labeling but a representation of perceptions of 'the other,' the human-nature relationship, and the supernatural concept. It was found that factors such as power relations for social control, gender construction, ecological awareness for conservation, and linguistic-territorial diversity significantly shape naming practices. This study concludes that the names of supernatural beings function as cultural documents that record the belief systems, values, and local wisdom of Indonesian society in viewing their universe.
Kata Kunci : makhluk supernatural, onomastik, linguistik antropologis, budaya Indonesia