Aktivitas Menabung di Bank oleh Masyarakat Bumiputra di Jawa pada 1900-1939
Soraya Anugralia, Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil.
2025 | Skripsi | ILMU SEJARAH
Penelitian ini mengkaji dinamika aktivitas menabung di bank oleh masyarakat bumiputra di Jawa pada masa kolonial. Meskipun mayoritas masyarakat bumiputra hidup dalam kemiskinan struktural akibat kebijakan kolonial yang eksploitatif, data menunjukkan bahwa sebagian dari mereka mampu menabung di bank. Fenomena ini memunculkan pertanyaan terkait dengan faktor-faktor yang melatarbelakangi keterlibatan masyarakat bumiputra dalam aktivitas menabung di bank; jumlah dan latar belakang sosial para penabung; serta bank-bank tabungan yang digunakan. Penelitian ini memanfaatkan sumber-sumber primer berupa laporan tahunan bank dan terbitan sezaman, serta didukung literatur sekunder yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas menabung di kalangan masyarakat bumiputra tidak sepenuhnya merupakan kesadaran individu, melainkan dipengaruhi oleh kebijakan struktural kolonial. Postspaarbank, sebagai bank tabungan milik pemerintah menjadi instutusi utama yang menghimpun tabungan melalui jaringan kantor pos sehingga layanannya menjangkau daerah perkotaan maupun perdesaan Jawa. Selain Postspaarbank, terdapat juga bank-bank tabungan swasta di beberapa kota besar di Jawa. Untuk menarik minat para penabung, bank-bank tabungan melakukan berbagai kampanye propaganda. Namun, sebagian besar iklan disampaikan dalam bahasa Belanda, sehingga hanya bisa diakses oleh kalangan terdidik. Akibatnya, aktivitas menabung didominasi oleh kelompok elit dan middenstand bumiputra. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aktivitas menabung di kalangan masyarakat bumiputra merupakan bagian dari proses modernisasi keuangan yang dikondisikan oleh sistem kolonial. Aktivitas menabung tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku ekonomi, tetapi juga alat kontrol fiskal negara terhadap modal masyarakat bumiputra.
This study examines the dynamics of bank saving
practices among the Bumiputra population in Java during the colonial period. Although
the majority of Bumiputra lived under structural poverty due to exploitative
colonial policies, historical data reveal that some were able to save money in
banks. This phenomenon raises questions regarding the underlying factors that
encouraged Bumiputra participation in banking, the number and social background
of the savers, and the types of banks they used. The study draws on primary
sources, including annual bank reports and contemporary publications,
complemented by relevant secondary literature.
The findings indicate that
saving activity among the Bumiputra was not entirely driven by individual
financial awareness but was shaped by structural colonial policies. Postspaarbank,
the state-owned savings bank, played a central role in collecting savings
through a network of post offices, reaching both urban and rural areas of Java.
In addition to Postspaarbank, several private savings banks operated in
major cities. To attract savers, these banks engaged in various propaganda
campaigns. However, most advertisements were published in Dutch, making them
accessible only to the educated elite. As a result, savings activities were
predominantly carried out by the Bumiputra elite and middenstand (middle
class). The study concludes that saving among the Bumiputra was part of a
broader process of financial modernization shaped by the colonial system.
Saving practices not only reflected changing economic behavior but also
functioned as a fiscal control mechanism by the state over indigenous capital.
Kata Kunci : Menabung, masyarakat bumiputra, bank tabungan kolonial, Jawa