Laporkan Masalah

BELIEVING IN MANY LOVES: AN ETHNOGRAPHIC STUDY OF YOUNG PEOPLE WHO PRACTICE POLYAMORY IN FREIBURG

Aqilah Rahmawati, Dr. Suzie Handajani, M. A.

2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Skripsi ini mengkaji bagaimana anak muda di Freiburg, Jerman, yang meyakini dan mempraktikkan hubungan poliamori, menjalani cinta, komitmen, dan kerja emosional di luar norma-norma monogami. Alih-alih memposisikan poliamori sebagai model universal atau gaya hidup tunggal, penelitian ini memahami poliamori sebagai praktik yang bersifat performatif dan berbasis keyakinan—yang dijalankan melalui negosiasi sehari-hari, penetapan batas, dan perawatan afektif.


Berdasarkan kerja lapangan etnografi yang mencakup wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan metode partisipatif berbasis seni (Arts-Based Engagement Ethnography/ ABEE), studi ini menunjukkan bagaimana para partisipan secara aktif membentuk relasi mereka melalui ekspresi verbal maupun non-verbal. Bagi mereka, cinta bukanlah identitas tetap, melainkan proses yang terus berlangsung yang dibentuk oleh etika personal, dinamika komunitas, serta tekanan sosial yang lebih luas.


Konteks kota Freiburg yang cenderung liberal memberikan ruang bagi ekspresi relasi non-normatif, namun pengakuan sosial tidak selalu merata. Meskipun komunitas queer dan jaringan mahasiswa menyediakan ruang afirmasi, para partisipan tetap menghadapi politik visibilitas, stigma, dan kebutuhan untuk memilah kapan dan kepada siapa mereka bisa membuka identitas relasional mereka. Dengan mengacu pada teori performativitas Judith Butler dan kritik dekolonial queer, skripsi ini berargumen bahwa poliamori, sebagaimana dipraktikkan oleh para partisipan, merupakan tindakan relasional sekaligus politis. Ia menantang gagasan normatif tentang kepemilikan dalam cinta, eksklusivitas, dan legitimasi, serta membuka ruang bagi bentuk-bentuk keintiman yang cair, dinegosiasikan, dan jamak.

This thesis examines how young people in Freiburg, Germany, who believe in and practice polyamory, navigate love, commitment, and emotional labor outside monogamous norms. Rather than treating polyamory as a universal model or lifestyle, this research frames it as a performative and belief-based practice which enacted through everyday negotiations, boundary-setting, and affective care.

Grounded in ethnographic fieldwork that included semi-structured interviews, participant observation, and arts-based engagement (ABEE), the study reveals how participants actively construct their relationships through both verbal and non-verbal forms of expression. Their experiences demonstrate that love, for them, is not a fixed identity but a continuous process: shaped by personal ethics, community dynamics, and broader social constraints.


Freiburg’s liberal context enables certain freedoms, but recognition remains uneven. While queer spaces and student networks offer affirmation, participants still navigate visibility politics, stigma, and selective disclosure. Drawing on the theoretical frameworks of Judith Butler’s performativity and queer decolonial critiques, the article argues that polyamory, as practiced here, is both a relational and political act. It disrupts normative ideas of ownership, monogamy, and legitimacy, and opens space for reimagining intimacy as fluid, negotiated, and multiple.

Kata Kunci : poliamori, non-monogami konsensual, cinta, keintiman, hubungan remaja, performativitas, kerja emosional, queer, dekolonial, seksualitas.

  1. S1-2025-476658-abstract.pdf  
  2. S1-2025-476658-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-476658-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-476658-title.pdf