Perbedaan Aktivitas Fisik terhadap Kejadian Sarkopenia berdasarkan Jenis Kelamin pada Lansia Panti Wredha di Yogyakarta
Kareendra Prasasti Arviandra Putri, Ema Madyaningrum, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D ; Dr. Akhmadi., S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom ; Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng
2025 | Skripsi | ILMU KEPERAWATAN
Latar
Belakang :Penuaan
menyebabkan penurunan fungsi sistem muskuloskeletal, yang berdampak pada
penurunan aktivitas fisik dan peningkatan risiko sarkopenia. Namun, perbedaan
aktivitas fisik dan angka kejadian sarkopenia berdasarkan jenis kelamin masih
menunjukkan hasil bervariasi antar studi, serta belum banyak diteliti pada
lansia di Indonesia, khususnya yang tinggal di panti wredha.
Tujuan
: Mengetahui perbedaan aktivitas
fisik dan kejadian sarkopenia pada lansia laki-laki dan perempuan yang tinggal
di panti wredha Yogyakarta.
Metode
: Penelitian
menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan analitik observasional dan
desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di tiga panti wredha
Yogyakarta pada Maret-April 2025 dengan total sampel sebanyak 107 lansia.
Instrumen yang digunakan antara lain kuesioner Strength, assistance in
walking, rising a chair, climbing stairs, calf circumference, and falls
(SARC-Calf), Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), hand dynamometer,
dan 5 times sit to stand (5TSTS) untuk mengetahui kejadian sarkopenia
serta kuesioner Rapid Assessment of Physical Activity (RAPA) untuk
mengukur tingkat aktivitas fisik. Data dianalisis menggunakan uji beda chi-square
dan analisis statistik dengan presentase.
Hasil
: Analisis
data menunjukkan terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara jenis
kelamin terhadap tingkat aktivitas fisik (p = 0,002). Mayoritas
perempuan berada pada kategori "kurang dari aktivitas ringan"
(61,5%), sedangkan laki-laki lebih banyak dalam kategori "kurang dari
aktivitas biasa" (38,1%). Tingkat kejadian sarkopenia berbeda signifikan
menurut jenis kelamin (p = 0,013), dengan proporsi perempuan yang
mengalami sarkopenia lebih besar (66,2%) dibandingkan laki-laki (45,2%).
Kesimpulan
: Terdapat
perbedaan aktivitas fisik dan kejadian sarkopenia antara lansia laki-laki dan
perempuan yang tinggal di panti wredha di Yogyakarta.
Background:
Aging
leads to a decline in musculoskeletal function, reducing physical activity and
increasing the risk of sarcopenia. However, differences in physical activity
and sarcopenia prevalence between sexes vary across studies and remain
underexplored among older adults in Indonesia, particularly in elderly homes.
Objective:
To examine
differences in physical activity and sarcopenia incidence between older men and
women living in nursing homes in Yogyakarta.
Methods:
A
cross-sectional, observational analytic study was conducted in three nursing
homes in Yogyakarta from March to April 2025, involving 107 older adults.
Instruments included the SARC-CalF questionnaire, Bioelectrical Impedance
Analysis (BIA), hand dynamometer, 5 Times Sit-to-Stand test (5TSTS) for
sarcopenia assessment, and the Rapid Assessment of Physical Activity (RAPA)
questionnaire for physical activity levels. Data were analyzed using chi-square
tests and percentages.
Results:
Significant
differences were found between sexes regarding physical activity levels (p =
0.002). Most women were categorized as engaging in “less than light activity”
(61.5%), while more men fell into “less than usual activity” (38.1%).
Sarcopenia prevalence also differed significantly by sex (p = 0.013), with a
higher proportion among women (66.2%) than men (45.2%).
Conclusion:
There are
significant differences in physical activity levels and sarcopenia incidence
between older men and women residing in Yogyakarta elderly homes.
Kata Kunci : aktivitas fisik, jenis kelamin, lansia, prevalensi, sarkopenia