Who Speaks for the Spill? A Critical Discourse Analysis of Shell’s 2023 Report on the Disclosure of Oil Spill Cases in Nigeria
Aida Rachmawati, Ahmad Mu'am, S.S., M.Sc.; Dr. Supriyono, S.S., M.A.; Ummul Hasanah, S.S., M.A.
2025 | Tugas Akhir | D4 BAHASA INGGRISPenelitian ini mengkaji bagaimana Shell, sebagai perusahaan multinasional, membangun dan mempertahankan citra korporatnya di Nigeria melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian komunikasi korporat dalam memahami bagaimana perusahaan-perusahaan besar menggunakan strategi bahasa dalam menghadapi krisis lingkungan, khususnya tumpahan minyak, untuk mempertahankan legitimasi sekaligus menghindari akuntabilitas institusional. Penelitian ini menggunakan kerangka tiga dimensi dari Norman Fairclough: analisis teks, representasi wacana, dan praktik sosial, yang diperkuat oleh teori dialogis Voloshinov, teori elite, serta konsep pembingkaian teknokratis dan depolitisasi. Data utama diambil dari Laporan Keberlanjutan Shell tahun 2023, yang kemudian dibandingkan dengan empat perspektif alternatif dari Amnesty International, Al Jazeera, Associated Press, dan Mongabay: Element Africa. Hasil analisis menunjukkan bahwa melalui penggunaan kosakata yang abstrak, struktur kalimat pasif, dan ungkapan modal yang tidak tegas, Shell membingkai kerusakan ekologis sebagai insiden teknis sekaligus menutupi identitas pelaku yang bertanggung jawab. Sebaliknya, tahap representasi wacana merepresentasikan suara masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan, dengan mengangkat konteks historis ketidakadilan lingkungan dan menantang dominasi wacana Shell. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa wacana laporan Shell tidak bersifat objektif melainkan sebagai konstruksi diskursif yang membentuk rezim kebenaran yang menormalisasi kekerasan ekologis sekaligus mengesampingkan keberadaan serta aspirasi komunitas lokal. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa wacana membentuk pemahaman publik terhadap isu-isu lingkungan, khususnya dalam konteks di mana korporasi multinasional, pemerintah, dan aktor masyarakat sipil terlibat dalam perbincangan mengenai kekuasaan, akuntabilitas, dan keadilan lingkungan. Penelitian ini menyerukan komunikasi lingkungan yang inklusif, transparan, dan berpusat pada komunitas untuk memulihkan suara masyarakat terdampak dan menantang pembingkaian dominan.
This thesis critically interrogates Shell’s construction of corporate legitimacy in Nigeria through the analytical lens of Critical Discourse Analysis (CDA). It responds to the urgent need to examine how multinational corporations (MNCs), such as Shell, deploy strategic linguistic and discursive mechanisms to mediate environmental crises, with a particular focus on oil spills, while preserving institutional authority and deflecting accountability. Employing Norman Fairclough’s three-dimensional CDA framework, which comprises textual analysis, discourse representation, and social practice, this study is further informed by Voloshinov’s theory of dialogic heteroglossia, elite theory, and the concept of technocratic depoliticization. The analysis centers on Shell’s 2023 Sustainability Report, with comparative examination of four media counter-narratives published by Amnesty International, Al Jazeera, Associated Press, and Mongabay: Element Africa. Findings reveal that Shell systematically utilizes lexical abstraction, nominalization, syntactic passivation, and modal ambiguity to obscure agency and reframe systemic ecological harm as depoliticized technical occurrences. In contrast, media texts articulate counter-discourses that foreground subaltern voices, contextualize environmental degradation within postcolonial injustice, and challenge the ideological underpinnings of Shell’s narrative. The study demonstrates that Shell’s sustainability discourse constitutes a technocratic regime of truth that sanitizes extractive violence and marginalizes affected communities. Ultimately, this research underscores how discourse shapes public understanding of environmental issues, particularly in contexts where multinational corporations, governments, and civil society actors engage with questions of power, accountability, and environmental justice. It calls for more inclusive, transparent, and community-centered approaches to environmental communication that re-center lived experiences and resist hegemonic framings of global resource governance.
Kata Kunci : Critical Discourse Analysis, Shell Nigeria, oil spills, corporate accountability, environmental injustice