Laporkan Masalah

Sikap Masyarakat Indonesia Terhadap Israelophobia: Analisis Identitas Dan Gerakan Sosial

Jusril Indra Mudzakir, Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.

2025 | Tesis | S2 Sastra/Kajian Timur Tengah

Israelophobia berkembang luas di tengah masyarakat Indonesia sebagai bentuk sikap negatif terhadap Israel, baik karena faktor agama, politik, maupun solidaritas kemanusiaan. Sikap ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik identitas sosial dan gerakan sosial. Penelitian ini fokus menganalisis faktor-faktor yang membentuk Israelophobia dengan pendekatan campuran (mixmethod), kuantitatif melalui survei terhadap responden dari tujuh wilayah besar Indonesia, dan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama, akademisi, dan aktivis yang terlibat dalam gerakan bela Palestina.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel dukungan terhadap Palestina X1 adalah faktor paling dominan dalam membentuk sikap Israelophobia, dengan pengaruh signifikan di hampir semua wilayah. Wilayah dengan rata-rata tingkat Israelophobia tertinggi adalah Sulawesi (4,47), diikuti Kalimantan (4,28), Sumatera (4,27), dan Jawa (4,25). Sementara itu, Papua (2,45) menunjukkan sikap yang cenderung netral, dengan dominasi variabel tindakan sosial (X3). Kemudian responden yang berusia muda (17–30 tahun), berpendidikan sarjana, dan beragama Islam merupakan kelompok yang paling aktif menunjukkan sikap pro-Palestina dan menolak Israel. Secara kualitatif menunjukkan bahwa Israel dikonstruksikan sebagai simbol ketidakadilan global dan penindasan umat Islam. Narasi dominan yang digunakan meliputi ajakan bertindak karena alasan moral (
motivational framing), penggambaran Israel sebagai musuh bersama (diagnostic framing), dan penyelesaian melalui aksi damai serta solidaritas transnasional (prognostic framing). Dalam konteks ini, media sosial, tokoh agama, institusi pendidikan, dan jaringan ormas menjadi instrumen utama penyebaran wacana Israelophobia. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa Israelophobia di Indonesia bukan sekadar bentuk kebencian politis, tetapi merupakan hasil dari proses konstruksi identitas sosial dan ideologi kolektif, yang diperkuat oleh pengalaman sejarah, nilai agama, narasi media, aksi gerakan sosial.

Israelophobia is widespread in Indonesian society as a form of negative attitude towards Israel, whether due to religious, political or humanitarian solidarity factors. This attitude is influenced by various interrelated factors, both social identity and social movements. This research focuses on analyzing the factors that shape Israelophobia using a mixed-method approach, quantitative through a survey of respondents from seven major regions of Indonesia, and qualitative through indepth interviews with religious leaders, academics, and activists involved in the Palestine defense movement.
The results show that the variable of support for Palestine X1 is the most dominant factor in shaping Israelophobic attitudes, with significant influence in almost all regions. The region with the highest average level of Israelophobia is Sulawesi (4.47), followed by Kalimantan (4.28), Sumatra (4.27), and Java (4.25). Meanwhile, Papua (2.45) shows an attitude that tends to be neutral, with the dominance of the social action variable (X3). Then respondents who are young (17- 30 years old), have a bachelor's degree, and are Muslims are the most active groups in showing pro-Palestinian attitudes and rejecting Israel. Qualitatively, it shows that Israel is constructed as a symbol of global injustice and oppression of Muslims. The dominant narratives used include calls to action for moral reasons (motivational framing), portrayal of Israel as a common enemy (diagnostic framing), and resolution through peaceful action and transnational solidarity (prognostic framing). In this context, social media, religious leaders, educational institutions, and mass organization networks are the main instruments for spreading the discourse of Israelophobia. Thus, this study concludes that Israelophobia in Indonesia is not just a form of political hatred, but is the result of a process of social identity construction and collective ideology, which is reinforced by historical experiences, religious values, media narratives, and social movement actions.

Kata Kunci : Israelophobia, social identity, social movements, Indonesia.

  1. S2-2025-525563-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525563-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525563-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525563-title.pdf