Laporkan Masalah

Analisis Kinerja Integrasi Antarmoda KRLw, MRT, LRT, dan BRT dalam Mewujudkan Kawasan Transit Oriented Development (Studi Kasus: Kawasan Dukuh Atas)

Gilbert Daniel Pandapotan Silalahi, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng.

2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL

Transportasi publik yang terintegrasi secara optimal merupakan kunci keberhasilan pembangunan perkotaan karena mampu meningkatkan efisiensi mobilitas, mengurangi polusi lingkungan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Wilayah Dukuh Atas di Jakarta Pusat merupakan salah satu area integrasi antarmoda dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang memiliki volume perpindahan antarmoda lebih dari 30.000 penumpang per hari. Namun saat mengimplementasikan konsep tersebut, Dukuh Atas menghadapi berbagai kendala, seperti sulitnya akses jalur pejalan kaki terintegrasi antar simpul, keterlambatan jadwal antarmoda, hingga keterbatasan fasilitas penunjang yang menyebabkan ketidaknyamanan pedestrian dan penumpukan penumpang saat jam sibuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja integrasi antarmoda di Kawasan Dukuh Atas berdasarkan kondisi eksisting dan persepsi pengguna, serta menganalisis tingkat keberhasilan integrasi dalam mendukung terwujudnya kawasan TOD.

Penelitian ini menggunakan dua jenis data primer, pertama dari observasi eksisting untuk integrasi antarmoda dan TOD yang kemudian diolah dengan metode scoring ITDP dan Permen ATR/BPN No.?16 Tahun 2017. Kedua, data persepsi pengguna dikumpulkan melalui kuesioner data pengguna transportasi publik di area TOD Dukuh Atas yang diperoleh dari pengisian kuesioner kepada 177 responden yang dianalisis melalui metode Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengidentifikasi kinerja integrasi antarmoda sesuai interpretasi pengguna. Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan, Kawasan Dukuh Atas mempunyai pelaksanaan integrasi antarmoda yang baik. Terdapat integrasi fisik dan jaringan berupa Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM), underpass Kendal, wayfinding, serta terhubungnya KRL, MRT, LRT, BRT pada satu kawasan. Kemudian telah terdapat integrasi informasi berupa peta integrasi jaringan transportasi umum, signage, papan informasi di setiap simpul transportasi. Selain itu, sudah diterapkan integrasi tiket berupa smartcard Jaklingko untuk tiket dan integrasi tarif yaitu penerapan mekanisme capping dengan waktu tertentu saat melakukan perpindahan moda.

Berlandaskan kuesioner yang diisi oleh 177 responden didapatkan penilaian kinerja integrasi dari persepsi pengguna dengan analisis IPA dengan perolehan skor rata-rata 3.81 untuk prasarana, 3.71 untuk pelayanan, dan 3.62 untuk integrasi. Pada penilaian tingkat kepuasan pengguna antarmoda, dilakukan analisis melalui metode Customer Satisfaction Indeks (CSI) dan didapatkan nilai sebesar 75.16% yang menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengguna masuk dalam kategori puas. Selain itu, berdasarkan IPA dan observasi yang telah dilakukan, terdapat 15 atribut prioritas yang berkinerja rendah terutama di aspek integrasi fisik, jadwal, dan integrasi organisasi untuk dilakukan peningkatan sehingga dapat meningkatkan prinsip walk, cycle, dan shift. Selanjutnya berdasarkan scoring menggunakan TOD Standard ITDP, TOD Dukuh Atas mendapatkan skor 58 dari 100 sehingga diberikan kriteria perunggu. Terakhir, berdasarkan Peraturan Menteri ATR/BPN No.16 Tahun 2017, Dukuh Atas telah memenuhi banyak regulasi standar TOD tetapi masih perlu banyak peningkatan di beberapa kriteria seperti fasilitas penunjang pedestrian, minimalisir parkir offstreet dan on-street, peningkatan hunian vertikal, memprioritaskan pejalan kaki dan pesepeda, pola jaringan jalan, pengaturan jumlah maksimum parkir retail/kantor, dan alternatif pola jaringan jalan bagi kendaraan tidak bermotor.

Optimally integrated public transportation is key to successful urban development as it enhances mobility efficiency, reduces environmental pollution, and fosters local economic growth. The Dukuh Atas area in Central Jakarta serves as a significant intermodal integration hub, designed with a Transit-Oriented Development (TOD) concept, facilitating over 30,000 passenger transfers daily. However, implementing this concept in Dukuh Atas faces various challenges, including difficulties with integrated pedestrian access between transit nodes, intermodal schedule delays, and limited supporting facilities, leading to pedestrian discomfort and passenger congestion during peak hours. This study aims to analyze the performance of intermodal integration in the Dukuh Atas area based on existing conditions and user perceptions, and to assess the success of this integration in realizing a TOD area.

This research ultilizes two primary data sources. First, existing observations for intermodal integration and TOD are processed using the ITDP scoring method and Ministerial Regulation of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (Permen ATR/BPN) No. 16 of 2017. Second, user perception data is collected through questionnaires distributed to 177 public transport users in the Dukuh Atas TOD area. This data is then analyzed using the Importance Performance Analysis (IPA) method to identify the performance of intermodal integration as interpreted by users. Based on the conducted observations, the Dukuh Atas area demonstrates good implementation of intermodal integration. There is physical and network integration through the Multipurpose Pedestrian Bridge (JPM), wayfinding, and the connection of KRL Commuter Line, MRT, LRT, and BRT within a single area in radius 500 meters. Furthermore, information integration is already applied through integrated public transport network maps, signage, and information boards at each transit node. In addition, ticket integration is implemented via the Jaklingko smartcard, and fare integration includes a capping mechanism for transfers within a certain timeframe.

Based on the questionnaires completed by 177 respondents, the performance assessment of integration from user perception through IPA analysis yielded average scores of 3.81 for infrastructure, 3.71 for services, and 3.62 for integration. In assessing the level of intermodal user satisfaction, the Customer Satisfaction Index (CSI) method was applied, resulting in a value of 75.16%, which indicates that user satisfaction falls into the "satisfied" category. Moreover, based on the IPA and observations, there are 15 priority attributes with low performance, particularly in the aspects of physical integration, scheduling, and organizational integration, which require improvement to enhance the principles of walk, cycle, and shift. Furthermore, based on scoring using the TOD Standard ITDP, Dukuh Atas TOD received a score of 58 out of 100, placing it in the bronze category. Lastly, according to Ministerial Regulation of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (Permen ATR/BPN) No. 16 of 2017, Dukuh Atas has met many TOD standard regulations but still requires significant improvements in several criteria, such as pedestrian supporting facilities, minimizing off-street and on-street parking, increasing vertical residential density, prioritizing pedestrians and cyclists, road network patterns, regulating maximum retail or office parking numbers, and alternative road network patterns for non-motorized vehicles.

Kata Kunci : Integrasi antarmoda, transit oriented development, Dukuh Atas

  1. S1-2025-477055-abstract.pdf  
  2. S1-2025-477055-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-477055-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-477055-title.pdf