Pengaruh Karakteristik Lingkungan Fisik, Sosial-Ekonomi, dan Sarana Prasarana terhadap Tingkat Prevalensi Stunting di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
Tsalsarizka Septi Aulia Badzlina, Ratna Eka Suminar, S.T., M.Sc.,
2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Stunting merupakan permasalahan
kesehatan masyarakat yang kompleks dan masih menjadi tantangan utama di
Indonesia. Meskipun prevalensinya menunjukkan tren penurunan secara nasional,
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya Kabupaten Gunungkidul, masih
mencatat angka yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
pengaruh karakteristik lingkungan fisik, sosial-ekonomi, dan sarana prasarana
terhadap prevalensi stunting di Kabupaten Gunungkidul. Data yang digunakan
bersifat kuantitatif sekunder pada 144 desa dengan analisis menggunakan uji
korelasi Spearman Rho dan regresi robust. Variabel yang dianalisis mencakup
aspek fisik (lahan pertanian, kemiringan tanah, curah hujan, IKL),
sosial-ekonomi (kepadatan penduduk, IKS, IKE, IDM, pendidikan, kemiskinan,
BPJS), serta sarana prasarana (rasio posyandu, sanitasi, air bersih dan
pengelolaan air limbah).
Hasil analisis menunjukkan bahwa
dari 15 variabel yang diuji, hanya sanitasi layak yang berpengaruh signifikan
secara statistik terhadap prevalensi stunting (koefisien -0,0916). Rendahnya
nilai adjusted R-squared (0,0228)
kemungkinan dipengaruhi oleh rendahnya variasi data antar desa, serta
mengindikasikan adanya faktor-faktor lain di luar aspek lingkungan yang turut
memengaruhi, seperti pola asuh, budaya lokal, dan tingginya angka pernikahan
dini. Selain itu, model regresi yang digunakan cenderung lebih representatif
untuk wilayah dengan karakteristik agraris seperti Gunungkidul. Temuan ini
mengindikasikan pentingnya intervensi penanggulangan stunting yang
multidimensional, kontekstual, dan berbasis bukti.
Stunting is a complex public health
issue and remains a major challenge in Indonesia. Although its national
prevalence has shown a declining trend, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),
particularly Gunungkidul Regency, continues to record relatively high rates.
This study aims to examine the influence of physical environmental
characteristics, socio-economic conditions, and basic infrastructure
availability on stunting prevalence in Gunungkidul Regency. The research
employs secondary quantitative data from 144 villages, analyzed using
Spearman’s Rho correlation and robust regression. The variables analyzed
include physical aspects (agricultural land, land slope, rainfall,
Environmental Resilience Index), socio-economic indicators (population density,
Social Resilience Index, Economic Resilience Index, Village Development Index,
education level, poverty rate, BPJS ownership), and infrastructure (posyandu
ratio, clean water availability, access to proper sanitation, and wastewater
management).
The results show that out of the 15
variables tested, only access to proper sanitation has a statistically
significant effect on stunting prevalence (coefficient = -0.0916). The low
adjusted R-squared value (0.0228) may be attributed to limited data variation
across villages and suggests that other non-environmental factors—such as
parenting practices, local culture, and early marriage rates—also play a role.
Additionally, the statistical model used in this study tends to be more
representative of agrarian regions such as Gunungkidul. These findings
highlight the need for multidimensional, contextual, and evidence-based
interventions in stunting reduction efforts.
Kata Kunci : stunting, karakteristik lingkungan, sosial-ekonomi, sanitasi layak, regresi robust