Laporkan Masalah

Representasi Inklusivitas Kecantikan dalam Kampanye #BeautyDiQuity di Instagram @luxrcime_id

Riza Fitri Fatima, Dr. Wisnu Martha Adiputra, S.I.P., M.Si.

2025 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Media sosial berperan penting dalam mendefinisikan kecantikan. Sayangnya, kecantikan yang ditampilkan dalam media sosial sering kali didominasi oleh kecantikan ekslusif. Hal ini menimbulkan suatu tekanan bagi perempuan yang tidak memenuhi standar kecantikan tersebut hingga memunculkan perasaan tidak percaya diri, insecure, dan body image disturbance. Luxcrime berupaya mendobrak standar kecantikan tersebut melalui kampanye bertajuk #BeautyDiQuity di platform Instagram @luxcrime_id. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana kampanye #BeautyDiQuity di Instagram @luxcrime_id merepresentasikan inklusivitas kecantikan yang fokusnya pada eksistensi fisik penyandang disabilitas dan keberagaman warna kulit. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu analisis semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukan bahwa kampanye #BeautyDiQuity menampilkan keberagaman fisik secara setara melalui model dengan down syndrome, albino, disabilitas fisik, dan kulit gelap. Menentang mitos kecantikan lama melalui berbagai model dan memperluas makna kecantikan agar tidak terikat pada kriteria fisik. Terdapat makna kecantikan lain berupa identitas keberagaman agama, makna kecantikan dari dalam diri, serta penerimaan diri. 

Social media plays an important role in defining beauty. Unfortunately, the beauty portrayed on social media is often dominated by exclusive beauty standards. This creates pressure on women who do not meet these standards, resulting in feelings of insecurity, lack of self-confidence, and body image disturbance. Luxcrime seeks to break these beauty standards through its #BeautyDiQuity campaign on the Instagram paltform @luxcrime_id. This study aims to understand and explain how the #BeautyDiQuity campaign on Instagram @luxcrime_id represents beauty inclusivity, focusing on the physical existence of persons with disabilities and the diversity of skin tones. This research uses a constructivist paradigm with a descriptive qualitative approach. The research method used is Roland Barthes' semiotic analysis. The results show that the #BeautyDiQuity campaign equally represents physical diversity through models with down syndrome, albinism, physical disabilities, and dark skin. It challenges old beauty myths through various models and broadens the meaning of beauty so that it is not limited to physical criteria. There are also other meaning of beauty, such as the identity of religious diversity, inner beauty, and self-acceptance. 

Kata Kunci : Representasi, Inklusivitas Kecantikan, Disabilitas, Warna Kulit, Analisis Semiotika

  1. S1-2025-480108-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480108-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480108-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480108-title.pdf