Penggunaan Madu Gel dan Madu Murni Lebah Klanceng (Tetragonula laeviceps, Smith 1857) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus (Rattus norvegicus, Berkenhout 1769) Galur Wistar
Raden Rara Lilliane Gemma Amanda, Drs. Ign. Sudaryadi, M.Kes.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Luka adalah sebuah masalah kesehatan yang sering muncul dan dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi serta pembentukan jaringan parut. Madu dari lebah tanpa sengat (Tetragonula laeviceps) dikenal memiliki sifat bioaktif yang dapat memberikan efek penyembuhan luka, merangsang pertumbuhan jaringan baru, dan menurunkan inflamasi, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dampak penggunaan madu gel dan madu murni Tetragonula laeviceps terhadap penyembuhan luka sayat serta untuk membandingkan efektivitas antara kedua jenis madu tersebut. Empat ekor tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus) dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, yakni kontrol negatif (K?) tanpa adanya pengobatan, kontrol positif (K+) dengan perlakuan povidone iodine (betadine), kelompok dengan madu murni (F1), dan kelompok yang menggunakan madu gel 80% (F2). Luka sayat dibuat secara longitudinal di punggung tikus dan pemantauan dilakukan selama dua minggu. Parameter utama yang dianalisis adalah panjang luka yang diukur setiap tiga hari pada pagi dan sore hari, kemudian data tersebut dianalisis menggunakan one-way ANOVA dengan uji Duncan pada tingkat signifikansi 95% (? = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok secara statistik (p > 0,05), tetapi pemodelan menggunakan regresi logaritme menunjukkan variasi dalam kecepatan penyembuhan. Kelompok madu gel (F2) menunjukkan pola penyembuhan yang konsisten, sementara kelompok madu murni (F1) menunjukkan respons yang cepat pada fase awal. Meskipun tidak ditemukan perbedaan signifikan secara statistik antara kelompok, madu gel menunjukkan efektivitas yang setara dengan madu murni. Dengan demikian, baik madu murni maupun madu gel Tetragonula laeviceps dapat menjadi alternatif alami untuk terapi penyembuhan luka sayat. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna mengoptimalkan formulasi gel madu, mengukur viskositas serta komponen bioaktif madu, melanjutkan analisis histopatologi, dan menyempurnakan metode dengan mempertimbangkan variasi konsentrasi, perbedaan jenis kelamin tikus, penggunaan Bionect sebagai kontrol positif, serta penggantian alkohol 70?ngan garam fisiologis
Wounds are a common health concern that can result in infections and scar tissue formation. Honey from stingless bees (Tetragonula laeviceps) has bioactive compounds that enhance wound healing, stimulate new tissue growth, and reduce inflammation, so speeding up the healing process. The purpose of this study was to look into the effects of honey gel and pure Tetragonula laeviceps honey on incisional wound healing, as well as to compare their effectiveness. Four male Wistar Rats (Rattus norvegicus) were divided into four treatment groups: negative control (K?) with no treatment, positive control (K+) treated with povidoneiodine (Betadine), pure honey (F1), and 80% honey gel (F2). Longitudinal incisional wounds were created on the rats' backs and monitoring was conducted over two weeks. The primary parameter analyzed was wound length, which was measured every three days in the morning and afternoon. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by Duncan's test using a 95% significance level (? = 0.05). The results showed no statistically significant differences between the groups (p > 0.05). However, logarithmic regression modeling indicated variations in healing rate. The honey gel group (F2) experienced a consistent healing pattern, while the pure honey group (F1) responded rapidly in the early phase. Although there were no statistically significant differences between the groups, honey gel was as effective as pure honey. As a result, both pure honey and honey gel made from Tetragonula laeviceps can be considered as natural alternatives for incisional wound treatment. Further research is recommended to optimize the honey gel formulation, measure the viscosity and bioactive components of the honey, continue histopathological analysis, and improve the methodology by considering to concentration variations, sex differences in Wistar Rats, the use of Bionect as a positive control, and the replacement of 70% alcohol with physiological saline.
Kata Kunci : Tetragonula laeviceps, madu, luka sayat