Identifikasi dan Histopatologis Infeksi Virus pada Budidaya Udang Vaname (Penaeus vannamei Boone, 1931) di Indonesia
Qonita Aulia Rahma, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc.; Dr. rer. nat. Abdul Rahman Siregar, S.Si., M.Biotech.
2025 | Tesis | S2 Biologi
Infeksi virus merupakan tantangan bagi budidaya
udang vaname (Penaeus vannamei) karena dapat menyebabkan kematian dan berakhir
dengan kerugian ekonomi. Penyakit merupakan bentuk ketidakseimbangan antara
lingkungan, inang, dan patogen.. Identifikasi agen penyebab penyakit perlu
dilakukan sebagai langkah pencegahan dan peningkatan kewaspadaan. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui virus penyebab penyakit pada budidaya udang
vaname serta mengetahui perubahan histopatologis jaringan udang yang
terinfeksi. Kasus kematian masal dilaporkan terjadi pada budidaya udang vaname di
Kabupaten Kendal, Jawa Tengah dengan tingkat kematian 83%. Gejala klinis yang
teramati berupa adanya bintik putih pada karapas udang serta kemerahan pada
pereiopod, pleopod, dan uropod mengarah pada infeksi White spot syndrome
virus. Dua individu diambil dan dilakukan deteksi molekuler berdasarkan
protein amplop VP28. Hasil deteksi menunjukkan bahwa organ insang,
hepatopankreas, usus, otot, dan pleopod dari kedua individu positif White
spot syndrome virus dan memiliki homologi 100?ngan isolat dari beberapa
negara. Perubahan histopatologis menunjukkan adanya atropi tubular,
degenerasi hidrofik intertubular, vakuolasi, dan adanya badan inklusi
eosinofilik. Pengujian postulat Rivers menunjukkan bahwa filtrat virus
menyebabkan kematian hingga 100% pada udang dan terkonfirmasi positif White
spot syndrome virus. Infeksi White spot syndrome virus tidak
terdeteksi pada beberapa lokasi budidaya udang vaname lain meliputi Kabupaten
Kulonprogo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Batang, dan
Kabupaten Pati.
Infectious disease is a major challenge
in Pacific white shrimp (Penaeus vannamei) culture which cause high
mortality rate and lead to significant losses. Disease represents an imbalance
between the environment, host, and pathogen. Identification of the disease
causative agent is essential for prevention and raising awareness. This study
aims to identify viral disease causative agent in shrimp culture outbreak and
to examine the histopathological alterations of the infected tissues. Mass
mortality of Pacific white shrimp culture is reported in Kendal Regency,
Central Java with the mortality rate 83%. Clinical symptoms of white spot on
carapace, reddish discoloration on pereiopod, pleopod, and uropod were
observed, which indicate to infection with White spot syndrome virus.
Two individuals were taken out for molecular detection based on viral envelope
protein VP28. The gill, hepatopancreas, gut, muscle, and pleopod of two
individuals were all positive tested for White spot syndrome virus and
shows 100% homology with isolates from several countries. Histopathological alteration
including tubular atrophy, hydrophic intertubular degeneration, vacuolation,
and eosinophilic inclusion body were observed. Rivers’ postulates show
mortality up to 100% in healthy shrimp and were tested positive of White
spot syndrome virus. The incidences of WSSV infection were not recorded in
other area such as Kulonprogo Regency, Purworejo Regency, Kebumen Regency,
Batang Regency, and Pati Regency.
Kata Kunci : gejala, histopatologis, penyakit, virus/disease, histopathology, symptoms, virus