Climate Change and Women Subjugation through June, Serena, and Emily in The Handmaid's Tale series
Birgitta Ardhana Neswari, Muh. Arif Rokhman, M,Hum., Ph.D.
2025 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA
Penelitian ini mengkaji bagaimana krisis lingkungan memperparah penindasan terhadap perempuan dalam The Handmaid’s Tale melalui pengalaman tiga tokoh perempuan utama: June, Serena, dan Emily. Dengan menggunakan teori ekofeminisme dan subjugasi gender, studi ini menelaah bagaimana perubahan iklim dalam Republik Gilead yang fiktif dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat kontrol patriarkal atas tubuh dan identitas perempuan. Rezim tersebut mengeksploitasi krisis fertilitas akibat perubahan iklim sebagai pembenaran atas hierarki gender yang kaku, kekerasan yang dilembagakan, serta penghapusan otonomi individu.
Melalui analisis tematik terhadap sejumlah episode pilihan dari serial tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa setiap tokoh mengalami penindasan dengan cara yang berbeda. June dijadikan alat reproduksi atas nama tradisi agama; Serena, yang awalnya menjadi pencipta ideologi Gilead, akhirnya terperangkap dalam sistem yang ia bantu ciptakan; sementara Emily, seorang akademisi lesbian, menghadapi hukuman brutal dan keterasingan karena identitasnya yang tidak sesuai dengan norma. Ketiga tokoh ini merepresentasikan bagaimana kekuasaan patriarkal berhubungan dengan krisis iklim dalam memberburuk ketimpangan sosial dan melegitimasi marginalisasi perempuan dan kelompok minoritas.
Namun demikian, narasi juga menunjukkan bahwa penindasan melahirkan perlawanan. Bab ketiga dalam penelitian ini berfokus pada bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh June, Serena, dan Emily terhadap kontrol rezim Gilead. Tindakan mereka dari ketidakpatuhan yang tersembunyi hingga pemberontakan terbuka menunjukkan bahwa resistensi dapat muncul dalam berbagai bentuk tergantung pada posisi mereka dalam struktur kekuasaan. Penelitian ini menegaskan bahwa penindasan dan perlawanan saling terkait dengan sistem yang menindas secara tidak langsung menciptakan ruang dan dorongan untuk melawan.
Dengan menggabungkan perspektif ekofeminis dan teori subjugasi gender, penelitian ini menyoroti bahaya penggunaan krisis lingkungan sebagai dalih untuk melakukan kontrol sosial. Penelitian ini juga menekankan pentingnya memahami perjuangan interseksional dalam narasi distopia serta bagaimana karya sastra dan media dapat merefleksikan, mengkritik, dan memperingatkan ketimpangan yang terjadi di dunia nyata. The Handmaid’s Tale tidak hanya berfungsi sebagai karya fiksi, tetapi juga sebagai komentar budaya atas risiko pengabaian terhadap keadilan lingkungan dan gender.
This research explores how environmental crises intensify gender subjugation in The Handmaid’s Tale through the experiences of three central female characters: June, Serena, and Emily. Using ecofeminism and gender subjugation theory, the study examines how climate change in the fictional Republic of Gilead becomes a powerful tool for reinforcing patriarchal control over women’s bodies and identities. The regime exploits the climate-induced fertility crisis to justify strict gender hierarchies, ritualized violence, and the erasure of personal identity.
Through thematic analysis of selected episodes from the series, the study reveals how each character experiences oppression differently. June is reduced to a reproductive tool under the guise of religious tradition; Serena, though once a creator of Gilead’s ideology, finds herself silenced and powerless within the regime; while Emily, a lesbian academic, faces brutal punishment and alienation due to her non-conforming identity. These characters reflect how patriarchal power intersects with climate-change crises to deepen social inequality and justify the marginalization of women and minorities.
However, the narrative also illustrates that oppression generates resistance. The third chapter of the study focuses on the ways June, Serena, and Emily challenge Gilead’s control. Their acts of defiance ranging from quiet disobedience to radical rebellion, demonstrate that resistance can emerge in many forms depending on one’s position within the power structure. The study argues that resistance is inseparable from oppression; the same systems that aim to suppress these women also provide the conditions and motivation for their resistance.
By combining ecofeminist and gender subjugation perspectives, this research highlights the danger of using environmental crises as justification for social control. It emphasizes the importance of recognizing intersectional struggles within dystopian narratives and how literature and media can reflect, critique, and warn against real-world inequalities. The Handmaid’s Tale serves not only as a fictional story but also as a cultural commentary on the risks of ignoring environmental and gender justice.
Kata Kunci : climate crisis, ecofeminism, patriarchal control, resistance, The Handmaid’s Tale, women’s subjugation