Resiliensi Kelompok Pedagang Kelontong Madura di Yogyakarta: Studi Tentang Etos Kerja, Sistem Bagi Hasil dan Perlindungan Sosial Komunitas
Muhammad Iqbal Sanusi, Prof. Dr. Susetiawan, S.U.
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Pandemi
COVID-19 telah mengubah kondisi ekonomi masyarakat secara masif sehingga
memunculkan peralihan pekerjaan dari sektor formal ke arah informal juga
berimplikasi pertumbuhan kegiatan wirausaha mengalami peningkatan dalam rangka
memperbaiki kondisi yang sedang terpuruk. Salah satunya masyarakat Madura yang
memang sudah memiliki tradisi merantau secara turun-temurun mulai beralih
dengan mendirikan toko kelontong di kota-kota besar. Pertumbuhan toko kelontong
ini mengalami peningkatan yang sangat pesat dan mulai tersebar di berbagai
wilayah Indonesia. Hal ini didasari oleh transisi pekerja menjadi pemilik yang
bisa dikatakan berkembang dalam waktu cukup singkat. Dorongan nilai-nilai
tradisi yang berlandaskan keagamaan menjadi salah satu pengikat sehingga
orientasi untuk sejahtera secara bersama menjadi ciri khas masyarakat Madura
dalam kegiatannya dalam bertahan, adaptasi dan mengatasi masalah secara
individual maupun komunal di daerah rantau. Hal lain yang tidak kalah menarik
ialah sistem bagi hasil yang membuat Toko Kelontong Madura ini berkembang
sangat pesat. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana
etos kerja, sistem bagi hasil dan perlindungan sosial komunitas kelompok
pedagang toko kelontong Madura di Yogyakarta yang dapat dipahami menjadi
resiliensi keberadaan mereka.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, dokumentasi dan observasi. Penentuan informan diklasifikasikan dengan beberapa syarat antara lain pemilik yang sudah menikah menjadi struktur paguyuban, pemilik yang belum menikah dan bagian dari struktur paguyuban, pekerja yang sudah menikah, pekerja yang belum menikah dengan total melibatkan tujuh orang informan. Analisis data dilakukan melalui penyajian data dan reduksi data lalu dianalisis secara tematik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja yang dimiliki berlandaskan nilai agama, dan tradisi yang dimiliki seperti bekerja sebagai bentuk ibadah, tanggung jawab, disiplin dan jujur tidak hanya bertujuan memenuhi kesejahteraan materil melainkan kesempurnaan menjalankan ibadah secara ritual maupun sosial. Sistem bagi hasil terjadi dengan melihat status pekawninan dimana yang sudah berkeluarga dikenakan bagi hasil melihat beban tanggung jawab menafkahi dan diorientasikan menjadi pemilik sehingga hal ini tidak terlepas dari prinsip pemberdayaan sedangkan bagi pekerja lajang hanya diberi gaji selayaknya pekerja pada umumnya. Perlindungan sosial komunitas menjadi suatu hal penjamin kesejahteraan pada kelompok ini meliputi batuan modal, bantuan perkawinan menggunakan barang kebutuhan rumah tangga, pembiayaan kematian dengan tidak membebankan biaya pada keluarga yang sedang berduka, pencegahan kerugian dengan peningkatan kapasitas secara mandiri maupun kerjasama pada pemerintah setempat, pembiayaan persalinan dengan bentuk uang, makanan hingga upacara adat, bantuan akses pendidikan dengan jalinan relasi pondok pesantren hingga jaminan keamanan secara komunal yang erat dalam meminimalisir potensi konflik di tanah rantau. Sehingga resiliensi kelompok pedagang kelontong Madura tidak hanya bertahan dalam pengertian stagnan melainkan berkembang dengan peningkatan jumlah toko kelontong berdasarkan kekuatan keyakinan dari etos kerja, sistem bagi hasil yang diterapkan dengan semangat naik kelas dari pekerja menjadi pemilik dan solidaritas kelompok yang kuat termanifestasi pada perlindungan sosial komunitas di antara mereka.
The COVID-19 pandemic has massively changed the economic conditions of the community, giving rise to a shift in employment from the formal sector to the informal sector, which also implies that the growth of entrepreneurial activities has increased in order to improve conditions that are down. One of them is the Madurese people who have had a tradition of migrating for generations, starting to switch by setting up grocery stores in big cities. The growth of this grocery store has increased very rapidly and has begun to spread in various parts of Indonesia. This is based on the transition from worker to owner, which can be said to have developed in a fairly short time. The encouragement of traditional values based on religion is one of the binders so that the orientation to prosper together becomes a characteristic of the Madurese community in its activities in surviving, adapting and overcoming problems individually and communally in overseas areas. Another thing that is no less interesting is the profit-sharing system that makes this Madura Grocery Store grow very rapidly. This research aims to answer how the work ethic, profit-sharing system and social protection of the Madurese grocery group community in Yogyakarta can be understood to be the resilience of their existence.
This research was conducted with a qualitative approach with a case study method. With data collection conducted through semi-structured interviews, documentation and observation. Determination of informants was classified with several requirements including married owners into a community structure, unmarried owners and part of a community structure, married workers, unmarried workers with a total involving seven informants. Data analysis was carried out through data presentation and data reduction and then analyzed thematically.
The
results of the study show that the work ethic that is owned is based on
religious values, and traditions that are owned such as working as a form of
worship, responsibility, discipline and honesty not only aims to fulfill
material welfare but also the perfection of carrying out worship both ritually
and socially. The profit-sharing system occurs by looking at the marital status
where those who are married are subject to profit-sharing seeing the burden of
responsibility for supporting and are oriented to become owners so that this is
inseparable from the principle of empowerment while single workers are only
given salaries like workers in general. Community social protection is a
guarantee of welfare in this group including capital assistance, marriage
assistance using household necessities, death financing without burdening the
grieving family, preventing losses by increasing capacity independently or in
collaboration with the local government, financing childbirth in the form of
money, food to traditional ceremonies, assistance with access to education with
a relationship with Islamic boarding schools to guaranteeing communal security
that is close in minimizing the potential for conflict in the land of exile. So
that the resilience of the Madurese grocery group does not only survive in the
sense of stagnation but develops with an increase in the number of grocery
stores based on the strength of belief in the work ethic, the profit-sharing
system applied with the spirit of upgrading from workers to owners and strong
group solidarity manifested in the social protection of the community among
them.
Kata Kunci : Kelontong Madura, Resiliensi, Etos Kerja, Sistem Bagi Hasil, Perlindungan Sosial Komunitas