perubahan nilai simbolis tradisi selapanan bayi di Desa Jlatren ditinjau dari teori pragmatisme John Dewey
Nur Qori Oktavia, Dr. Sartini, M.Hum. ; Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum.
2025 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Selapanan bayi merupakan sebuah bentuk ungkapan rasa syukur dan permohonan doa atas kelahiran bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan nilai simbolis dalam tradisi selapanan bayi dan menganalisis perubahan tersebut melalui teori pragmatisme John Dewey untuk memahami bagaimana masyarakat menyesuaikan tradisi dengan perubahan zaman, kebutuhan praktis, dan pengalaman hidup.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami dan menganalisis data. Menggabungkan antara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dengan subjek penelitian berjumlah 3 orang, terdiri dari: mbah kaum dan masyarakat (perwakilan generasi muda dan generasi menengah) yang aktif melaksanakan tradisi selapanan bayi, pemilihan informan dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan 2 sumber yaitu penelitian kepustakaan terdahulu sebagai sumber data utama dan penelitian lapangan, meliputi: observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber pelengkap. Teknik analisis data menggunakan metode analisis Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi selapanan bayi di Desa Jlatren mengalami perubahan nilai simbol, yaitu ritual yang sebelumnya kompleks menjadi lebih sederhana dan praktis. Perubahan ini mencerminkan adaptasi masyarakat trhadap tuntutan kehidupan modern yang menekankan prinsip praktis dan efisien. Prinsip pragmatisme John Dewey, yaitu pengalaman, eksperimen, dan kontinuitas terlihat dalam cara masyarakat menginterpretasi ulang tradisi selapanan agar tetap relevan dengan zaman saat ini tanpa kehilangan nilai dasar budaya.
Selapanan bayi is a form of expression of gratitude and prayer for the birth of a baby. This study aims to describe the changes in symbolic values ??in the selapanan bayi tradition and analyze these changes through John Dewey's pragmatism theory to understand how society adapts traditions to changing times, practical needs, and life experiences.
This study uses a qualitative descriptive method, with a phenomenological approach to understand and analyze data. Combining library research and field research with 3 research subjects, consisting of: mbah kaum and the community (representatives of the younger generation and the middle generation) who actively carry out the baby selapanan tradition, selection of informants using purposive sampling techniques. Data collection techniques use 2 sources, namely previous library research as the main data source and field research, including: observation, interviews, and documentation as complementary sources. Data analysis techniques use the Anton Bakker and Achmad Charris Zubair analysis methods.
The results of this study indicate that the tradition of baby selapanan in Jlatren Village has experienced a change in symbolic value, namely the ritual that was previously complex has become simpler and more practical. This change reflects the adaptation of society to the demands of modern life that emphasizes practical and efficient principles. John Dewey's pragmatism principles, namely experience, experimentation, and continuity are seen in the way society reinterprets the selapanan tradition to remain relevant to the current era without losing basic cultural values.
Kata Kunci : Simbol, Selapanan, Pragmatisme Dewey