Laporkan Masalah

Dari Sampah menjadi Sedekah: Kesalehan Sosial dalam Praktik Pengumpulan Rongsok oleh Remaja Masjid Al-Muttaqin Dusun Srunggo 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

AULIA TRI WIDIASTUTI, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.

2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Sampah adalah sesuatu yang tidak bermanfaat atau bernilai lagi bagi manusia. Pada tahun 1970-an—saat pabrik daur ulang mulai muncul di Indonesia, pandangan masyarakat mengenai sampah mulai bergeser, dari yang memaknai sesuatu yang tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Akhirnya, banyak masyarakat yang berkecimpung dalam usaha sampah atau rongsok, misalnya jadi juragan rongsok, pengepul rongsok, dan perombeng. Remaja Masjid Al-Muttaqin (Remasqin) menjadi salah satu yang ikut berkecimpung dalam usaha ini sebagai masyarakat yang menjual rongsok. Akan tetapi, saat awal pelaksanaannya, kegiatan ini tidak didukung oleh masyarakat. Setelah Remasqin berjuang kurang lebih dua tahun, akhirnya masyarakat mendukung kegiatan tersebut. Studi ini bertujuan untuk memahami mengapa praktik pengumpulan rongsok berhasil dan diterima di masyarakat.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang didapatkan dianalisis dengan perspektif antropologi dengan menggunakan konsep kesalehan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan praktik pengumpulan rongsok dipengaruhi oleh perubahan pendekatan yang dilakukan oleh Remasqin, yaitu mengalihkan tujuan dari mengurangi sampah menjadi gerakan yang berfokus pada nilai amal atau sedekah. Pendekatan ini sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama yang dianut oleh masyarakat Srunggo 1, yaitu beramal dan membantu satu sama lain. Praktik ini menjadi sarana bagi warga untuk beramal dan membantu anak yatim piatu serta lansia di Dusun Srunggo 1. Keberhasilannya juga membuat tercapainya tujuan awal praktik ini, yaitu mengurangi sampah. Dengan demikian, praktik ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mengubah sampah menjadi berkah bagi semua.

Waste is generally understood as something no longer useful or valuable to humans. In the 1970s—when recycling factories began to emerge in Indonesia, public perception of waste started to shift from being seen as worthless to something with economic value. As a result, many people began engaging in the waste or scrap business, becoming scrap collectors, aggregators, and perombeng. The youth group of Al-Muttaqin Mosque (Remasqin) became one of those who took part in this effort by selling scrap materials. However, in the early stages of implementation, this activity was not supported by the community. After about two years of effort by Remasqin, the community eventually began to support the activity. This study aims to understand why the practice of scrap collection succeeded and was accepted by the community.

This research uses a qualitative method. The collected data was analyzed through an anthropological perspective using the concept of social piety. The findings reveal that the success of the practice is driven by a shift in approach: from simply reducing waste to promoting a movement centered on acts of charity or almsgiving. This approach aligns with the moral and religious values held by the Srunggo 1 community, namely giving and helping others. The practice has become a means for residents to donate and support orphans and the elderly in Srunggo 1. Ultimately, this initiative not only addresses environmental issues but also transforms waste into a source of blessing for all.

Kata Kunci : Sampah, Praktik Pengumpulan Rongsok, Kesalehan Sosial

  1. S1-2025-462944-abstract.pdf  
  2. S1-2025-462944-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-462944-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-462944-title.pdf