Laporkan Masalah

Gejala Post-Suburbanisasi di Wilayah Metropolitan Gerbangkertosusila dan Kedungsepur

Diandra Aura Khanza, Doddy Aditya Iskandar, S.T., MCP, Ph.D

2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Pertumbuhan perkotaan dan urbanisasi di Indonesia meningkat setiap tahunnya dengan dinamika yang sangat kompleks dan beragam. Hal tersebut memunculkan metropolitan sebagai salah satu proses yang mengintegrasikan kawasan pinggiran dengan pusat kota memiliki hubungan yang kuat baik dalam konektivitas kegiatan ekonomi, infrastruktur, dan sosial. Tahap evolusi metropolitanisasi menghasilkan struktur perkotaan yang dikenal sebagai Post-Suburban. Fenomena tersebut digambarkan sebagai kemandirian suatu wilayah suburban yang tidak lagi terikat dengan kota inti. Akan tetapi, fenomena ini masih memiliki gap teoritis dan empiris sehingga perlu untuk dikaji lebih dalam dengan lebih komprehensif. Wilayah metropolitan Gerbangkertosusila dan Kedungsepur merupakan metropolitan yang berkembang pesat sebagai pusat ekonomi di Pulau Jawa, sehingga menjadikan keduanya menjadi wilayah yang relevan untuk penelitian gejala post-suburbanisasi. Maka, penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi perubahan transformasi wilayah metropolitan Surabaya dan Semarang apabila fenomena post-suburbanisasi teridentifikasi (2) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi pendorong pertumbuhan kemandirian kawasan suburban di sekitar Surabaya dan Semarang. Tujuan penelitian ini dijawab dengan metode deskriptif kualitatif dan studi komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gerbangkertosusila lebih maju dalam proses post-suburbanisasi dibandingkan Kedungsepur dikarenakan perbedaan skala ekonomi. Kawasan suburban yang ada dikategorisasikan dalam beberapa tingkat kemandirian dengan kondisi spasial dan aspasial yang berbeda. Faktor utama yang mendorong post-suburbanisasi di kedua wilayah meliputi transformasi struktural yang diikuti oleh perkembangan infrastruktur, mobilitas, dan peran kelembagaan. Hasil ini menunjukkan bahwa post-suburbanisasi di Indonesia terjadi dengan pola yang berbeda di setiap wilayah, tergantung pada faktor ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan tata ruang yang mendukung pertumbuhan kawasan suburban. Oleh karena itu, diperlukan strategi kebijakan yang berbeda dalam pengelolaan perkembangan metropolitan di Indonesia agar suburbanisasi dapat berkembang secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Urban growth and urbanization in Indonesia have been increasing each year, characterized by highly complex and diverse dynamics. This has led to the emergence of metropolitan areas as a process that integrates peripheral regions with city centers, forming strong connections in terms of economic activities, infrastructure, and social interactions. The evolutionary stage of metropolitanization has produced an urban structure known as Post-Suburban. This phenomenon is described as the autonomy of suburban areas that are no longer dependent on the core city. However, this phenomenon still contains theoretical and empirical gaps that require more in-depth and comprehensive study. The metropolitan regions of Gerbangkertosusila and Kedungsepur have rapidly developed as economic centers on the island of Java, making them relevant regions for research on post-suburbanization symptoms. Therefore, this study aims to: (1) Identify the transformation of the metropolitan areas of Surabaya and Semarang if post-suburbanization is detected; (2) Identify and analyze the driving factors behind the growth of suburban autonomy around Surabaya and Semarang. This research is addressed using a qualitative descriptive method and comparative study. The results show that Gerbangkertosusila is more advanced in the post-suburbanization process compared to Kedungsepur, due to differences in economic scale. The existing suburban areas are categorized into several levels of autonomy with varying spatial and non-spatial conditions. The main factors driving post-suburbanization in both regions include structural transformation followed by the development of infrastructure, mobility, and institutional roles. These results indicate that post-suburbanization in Indonesia occurs with different patterns in each region, depending on economic factors, infrastructure, and spatial planning policies that support suburban growth. Therefore, differentiated policy strategies are needed in managing metropolitan development in Indonesia so that suburbanization can evolve more autonomously and sustainably.

Kata Kunci : Post-Suburbanisasi, Metropolitan, Transformasi Wilayah, Kemandirian Suburban, Urbanisasi

  1. S1-2025-474323-abstract.pdf  
  2. S1-2025-474323-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-474323-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-474323-title.pdf