Laporkan Masalah

Language Accommodation and Power: A Case Study of Public Signage in Prawirotaman, Yogyakarta

Qonita Risqi Setya Ananda, Hasyim Kurniawan, S.S., M.App.Ling.

2025 | Skripsi | SASTRA INGGRIS

Skripsi ini mengkaji bagaimana papan tanda publik di kawasan wisata Prawirotaman, Yogyakarta, mencerminkan strategi akomodasi bahasa dengan menggunakan kerangka Teori Akomodasi Komunikasi (Giles, 1973). Berdasarkan 353 papan tanda yang dikumpulkan melalui Google Street View dan observasi langsung, data diklasifikasikan berdasarkan visibilitas bahasa, tujuan komunikatif, produsen papan tanda, serta strategi akomodasi: konvergensi, divergensi, atau pelestarian. Hasil penelitian menunjukkan dominasi bahasa Inggris pada papan tanda publik yang diproduksi oleh sektor swasta (bottom-up), khususnya papan identifikasi dan informasi, yang berfungsi secara komunikatif sekaligus simbolik. Sebaliknya, papan tanda dari pemerintah (top-down) tetap didominasi bahasa Indonesia, menunjukkan keterlibatan otoritas setempat yang minimal dalam permintaan multibahasa. Keberadaan bahasa Jawa sebagai bahasa lokal sangat terbatas, menunjukkan adanya hierarki bahasa: Inggris sebagai bahasa yang aspiratif, Indonesia sebagai bahasa fungsional, dan Jawa sebagai bahasa residual. Lanskap linguistik di Prawirotaman tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi ruang di mana identitas, hegemoni, dan ideologi bahasa dinegosiasikan dalam konteks globalisasi dan pelestarian budaya lokal.

This thesis explores how public signage in Prawirotaman, Yogyakarta, reflects language accommodation strategies in a tourism-driven context, using Communication Accommodation Theory (Giles, 1973). Based on 353 signs collected through Google Street View and on-site observation, signage is categorised by language visibility, communicative intent, sign producer, and accommodation strategy (convergence, divergence, or  maintenance). Findings show that English dominates bottom-up signage, especially in identification and informational signs produced by private businesses, serving both practical and symbolic functions. In contrast, top-down signage issued by the government remains largely monolingual in Indonesian, signaling a lack of institutional engagement with multilingual needs. Javanese, as the local vernacular, is nearly absent, highlighting a hierarchy in which English is seen as aspirational, Indonesian as functional, and Javanese as residual. This dynamic reflects broader sociolinguistic tensions between global tourism demands and local language preservation. Ultimately, the linguistic landscape of Prawirotaman functions not only as a communicative tool but also as a space where identity, power, and language ideologies are actively negotiated.

Kata Kunci : linguistic landscape, Google Street View, public signage, Communication Accommodation Theory

  1. S1-2025-478074-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478074-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478074-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478074-title.pdf