Laporkan Masalah

PENGARUH PEMUPUKAN DAN PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI Acacia decurrens (J.C. Wendl.) Willd.

Syifa Nabila, Ir. Eny Faridah, M. Sc., Ph. D. IPM. ; Dr. Ir. Daryono Prehaten, S. Hut., M. Sc., IPM.

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 mendorong perubahan ekosistem pada daerah tersebut. Sebagai akibatnya, terjadi dominansi oleh Acacia decurrens sehingga berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati pada daerah Gunung Merapi, terutama daerah yang mengalami kerusakan berat. Hal tersebut membuat A. decurrens disebut mempunyai potensi keinvasifan. Meskipun dianggap menurunkan keanekaragaman hayati namun  A. decurrens mempunyai manfaat yaitu dapat digunakan sebagai bahan arang, kayu bakar, dan gum arabica. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter pertumbuhan A. decurrens, perlu diketahui respon pertumbuhan semai A. decurrens terhadap pengaruh penyiraman dan pemupukan. 

Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2024 sampai dengan Maret 2025 di Greenhouse Persemaian Klebengan serta Laboratorium Fisiologi Pohon dan Tanah Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Penelitian dilakukan dalam rancangan split plot, dengan perlakuan penyiraman sebagai main plot, dan perlakuan pemupukan sebagai sub plot. Terdapat 3 taraf dalam perlakuan penyiraman; S1 (setiap hari), S4 (setiap 4 hari), S7 (setiap 7 hari) dan 3 taraf dalam dosis pemupukan NPK; P0 (tanpa pupuk), P1 (1,5 g), P2 (3 g). Setiap perlakuan dengan 5 ulangan, sehingga total semai yang diamati sebanyak 45 semai. Parameter yang diamati antara lain tinggi semai, diameter semai, total daun tiap semai, warna daun, biomassa akar, dan biomassa tajuk. Pengolahan data dilakukan dengan ANOVA memanfaatkan R Studio. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semai dengan pertumbuhan terbaik diperoleh dari perlakuan pemupukan NPK dosis 1,5 g dan perlakuan penyiraman setiap hari. Untuk kombinasi perlakuan terbaik diperoleh dari S1P1 (penyiraman setiap hari dan pemupukan 1,5 g). Dari pengamatan juga diketahui bahwa A. decurrens relatif tahan terhadap cekaman kekeringan, sehingga A. decurrens dapat disebut mempunyai potensi keinvasifan. Hasil pengamatan juga menemukan bintil akar pada semai kontrol, dengan bintil akar terbanyak ditemukan pada semai dengan perlakuan penyiraman S4 dan S7. 

The eruption of Mount Merapi in 2010 has caused significant changes of the local ecosystem. As a result, Acacia decurrens has predominated the area, leading to a decline in biodiversity, particularly in areas that suffered severe damage. Due to that condition, A. decurrens is considered to have high potential for invasiveness. However, it also has economic value, as it can be used for charcoal and firewood, and produce gum arabic. To understand the growth characteristics of A. decurrens,  it is necessary to examine the growth response of its seedlings to watering and fertilization treatments. 

The research was conducted from October 2024 to March 2025 at Greenhouse of Persemaian Klebengan and Laboratorium Fisiologi Pohon dan Tanah Hutan, Fakultas Kehutanan, UGM.  The study used a split plot design, with watering treatment as the main plot and fertilization treatment as the subplot. There were three levels of watering treatment i.e. S1 (daily), S4 (every 4 days), and S7 (every 7 days), and three levels of NPK fertilization dosages i.e. P0 (no fertilizer), P1 (1.5 g), and P2 (3 g). Each treatment was replicated 5 times, resulting in a total of 45 seedlings observed. The parameters measured included seedling height, seedling diameter, total number of leaves, leaf color, root biomass, and shoot biomass. Data analysis was performed using ANOVA with the help of R Studio.

Kata Kunci : Acacia decurrens, bintil akar, cekaman kekeringan, pemupukan.

  1. S1-2025-481602-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481602-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481602-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481602-title.pdf