Hubungan Karakteristik Angiofibroma Nasofaring Juvenil Terhadap Kekambuhan di RSUP Dr Sardjito
Eunike Kezia Santosa, Dr. dr. Camelia Herdini, M.Kes., Sp.T.H.T.B.K.L., SubSp.Onk(K)., FICS; dr. Danu Yudistira, M.MR., Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.H.
2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang: Angiofibroma
Nasofaring Juvenil (ANJ) merupakan tumor jinak kepala leher yang muncul pada
remaja laki-laki. Meskipun tumor ini jinak, tetapi risiko invasinya tinggi
karena sifat proliferasinya agresif yang merusak tulang-tulang tengkorak.
Keluhan utama yang dialami dapat berupa obstruksi nasal, epistaksis, sakit
kepala karena sinus paranasal yang tersumbat, dan pembengkakan wajah. Tindakan
operasi masih menjadi pilihan terapi utama. Kekambuhan dapat dialami 6 bulan
setelah terapi awal.
Tujuan: Untuk mengetahui
karakteristik kelompok usia, jenis kelamin, keluhan utama, stadium, tindakan
operasi, dan kekambuhan dari pasien yang menderita ANJ.
Metode: Studi cross-sectional menggunakan data rekam
medis elektronik pada RSUP Dr Sardjito dari Januari 2019 sampai Desember 2024.
Subyek adalah pasien dengan ANJ. Data
yang diambil berupa usia, jenis kelamin, keluhan utama, stadium, tindakan
operasi, dan kekambuhan pasien dari
rekam medis.
Hasil: Sembilan pasien mengalami kekambuhan setelah operasi pertama. Pasien ANJ
semuanya laki-laki, banyak pada kelompok usia 11-15 tahun, dengan stadium early
stage, mendapatkan tindakan operatif sebagai terapi, dan median waktu
kekambuhan sebesar 58 minggu. Secara statistik tidak ada perbedaan signifikan
untuk setiap variabel terhadap kekambuhan. Hanya waktu follow-up yang ada
perbedaan signifikan antara yang mengalami kekambuhan dan yang tidak.
Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara karakteristik ANJ dilihat dari usia, jenis kelamin, stadium, dan pemilihan terapi terhadap kekambuhan. Namun, ditemukan perbedaan signifikan pada onset kekambuhan terhadap kekambuhan sebesar 58 minggu.
Background: Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma
(JNA) is a benign head and neck tumor that occurs in adolescent boys. Although
this tumor is benign, the risk of invasion is high because of its aggressive
proliferation that damages the skull bones. The main complaints experienced can
be nasal obstruction, epistaxis, headaches due to blocked paranasal sinuses,
and facial swelling. Surgery is still the main treatment option. Recurrence can
occur 6 months after initial therapy.
Objective: To determine the characteristics of
age groups, gender, main complaints, stages, surgical procedures, and
recurrence of patients suffering from JNA.
Methods: Cross-sectional study using
electronic medical record data at Dr. Sardjito General Hospital from January
2019 to December 2024. Subjects were patients with JNA. Data taken were age,
gender, main complaints, stage, surgical procedures, and patient recurrence
from medical records.
Results: Nine patients experienced recurrence
after the first operation. JNA patients were all male, many in the 11-15 year
age group, with early stage, received surgical procedures as therapy, and a
median time to recurrence of 58 weeks. Statistically, there was no significant
difference for each variable on recurrence. Only the follow-up time had a
significant difference between those who experienced recurrence and those who
did not.
Conclusion: There is no relationship between the characteristics of JNA seen from age, gender, stage, and choice of therapy to recurrence. However, a significant difference was found in the onset of recurrence to recurrence of 58 weeks.
Kata Kunci : Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma, benign tumor, nasal obstruction, surgery, recurrence