Laporkan Masalah

Analisis Persepsi Estetika Wajah Remaja pada Pasien Suku Jawa Pasca Perawatan Ortodonti Maloklusi Skeletal Kelas II

Saffa Amalia Solikhah, Dr. drg. Cendrawasih Andusyana Farmasyanti., M.Kes., Sp.Ort, Subsp. DDTK (K); Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort, Subsp. DDPK (K)

2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER GIGI

Maloklusi skeletal kelas II merupakan salah satu kelainan oklusi yang dapat mempengaruhi estetika wajah. Perawatan ortodonti menjadi salah satu metode yang dilakukan untuk memperbaiki estetika wajah akibat maloklusi. Persepsi estetika wajah penting bagi remaja akhir yang diketahui sangat mementingkan penampilannya untuk menunjang hubungan sosial. Standar kecantikan dapat bervariasi berdasarkan ras, suku, maupun budaya, sehingga diperlukan riset pada populasi yang spesifik, salah satunya adalah pada Suku Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi remaja terhadap estetika wajah sebelum dan sesudah perawatan ortodonti, serta mengetahui perbedaan persepsi berdasarkan sudut kecembungan muka pada pasien Suku Jawa dengan maloklusi skeletal kelas II.

Penelitian ini menggunakan metode survei melalui kuesioner Google Form dengan bentuk lima elemen skala likert. Responden merupakan mahasiswa non-medika angkatan 2024 UGM yang menilai 12 foto wajah sebelum dan sesudah perawatan ortodonti secara single blind. Data dianalisis menggunakan uji deskriptif serta uji Wilcoxon dan Mann-Whitney U dengan bantuan SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi estetika wajah sebelum dan sesudah perawatan. Persepsi remaja terhadap estetika wajah pada foto sesudah perawatan mayoritas meningkat dibandingkan dengan sebelum perawatan, kecuali persepsi estetika tidak terjadi peningkatan pada foto laki - laki kategori kecembungan rendah. Persepsi estetika wajah pada foto laki - laki dengan sudut kecembungan sedang paling menarik diikuti dengan kecembungan tinggi kemudian rendah, serta pada foto perempuan kategori sedang dan rendah lebih menarik dibandingkan dengan kategori tinggi.

Skeletal class II malocclusion is one of the occlusal abnormalities that can affect facial aesthetics. Orthodontic treatment is one of the methods used to improve facial aesthetics resulting from malocclusion. Facial aesthetic perception is particularly important among late adolescents, who tend to prioritize appearance in supporting social interactions. Standards of beauty can vary across races, ethnicities, and cultures; therefore, research on specific populations is necessary, including among the Javanese ethnic group. This study aims to determine the differences in adolescents’ perceptions of facial aesthetics before and after orthodontic treatment, as well as to examine perception differences based on facial convexity angles among Javanese patients with skeletal Class II malocclusion.

This research utilized a survey method through a Google Form questionnaire employing a five-point Likert scale. Respondents were non-medical students from the 2024 cohort at Universitas Gadjah Mada (UGM) who assessed 12 facial photos—taken before and after orthodontic treatment in a single-blind manner. The data were analyzed using descriptive statistics and the Wilcoxon and Mann-Whitney U tests with the help of SPSS software.

The results showed significant differences in aesthetic perception before and after treatment. Adolescents’ perceptions of facial aesthetics mostly improved in the post-treatment photos, except in the male photos with low facial convexity, where no improvement was observed. Among male photos, faces with moderate convexity were perceived as the most attractive, followed by high and then low convexity. For female photos, the moderate and low convexity categories were considered more attractive than the high convexity category.

Kata Kunci : maloklusi skeletal kelas II, persepsi remaja, estetika wajah, sudut kecembungan muka, Suku Jawa

  1. S1-2025-478312-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478312-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478312-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478312-title.pdf