Potensi Mineral Krits pada Endapan Bauksit Laterit dari Batuan Induk Granitoid Tambang Tayan, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat
Yunanto Budi Prasetyo, Dr.rer.nat. Ir. I Wayan Warmada, IPM. ; Ir. Esti Handini, S.T., M.Eng., D.Sc., IPM.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bauksit laterit yang besar, menempati posisi keenam terbesar di dunia dengan cadangan 1 miliar ton. Kabupaten Sanggau di Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah dengan potensi sumber daya bauksit terbesar di Indonesia, dengan cadangan yang mencapai 1,23 miliar ton. Selain aluminium, endapan bauksit laterit memiliki potensi mineral kritis seperti logam tanah jarang, galium, dan vanadium yang memiliki peran strategis dalam industri teknologi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi mineral kritis yaitu logam tanah jarang, galium, dan vanadium pada endapan bauksit laterit dari batuan induk granitoid. Metode yang digunakan meliputi analisis mineralogi berupa petrografi pada 7 sampel batuan induk dan 8 sampel profil bauksit laterit, serta analisis XRD pada 6 sampel untuk mengetahui komposisi mineral pada batuan induk dan profil bauksit laterit, serta analisis geokimia berupa ICP-MS dan ICP-AES untuk mengetahui konsentrasi unsur mayor dan mineral kritis pada masing-masing zona profil bauksit laterit. Endapan bauksit laterit di Tayan berasal dari batuan granodiorit dan tonalit, dan membentuk profil yang terdiri dari onion ring spheroidal weathering, zona kong, zona bauksit, dan zona latosol serta tergolong dalam kaolinitic bauxite. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur logam tanah jarang berkorelasi positif dengan SiO2, unsur galium berkorelasi positif dengan Al2O3, TiO2, dan Fe2O3, serta unsur vanadium berkorelasi dengan Fe2O3 dan TiO2. Batuan induk memiliki konsentrasi LTJ 59,69 – 210,42 ppm, V 66 – 196 ppm, dan Ga 12,2 – 18,8 ppm. Pada profil endapan bauksit laterit memiliki konsentrasi LTJ 4,58 – 96,58 ppm, V 96 – 333 ppm, dan Ga 16 – 29,6 ppm. Penurunan konsentrasi logam tanah jarang menunjukkan bahwa sebagian unsur logam tanah jarang mengalami pelepasan selama proses pelapukan. Konsentrasi logam tanah jarang tertinggi dalam profil bauksit laterit ditemukan pada zona kong karena teradsorpsi oleh mineral kaolinit. Unsur vanadium menggantikan posisi Fe dalam struktur mineral goetit dan hematit. Sementara itu, unsur galium berasosiasi dengan Al2O3 dan mencapai konsentrasi tertinggi di zona bauksit, menggantikan unsur Al dalam mineral gibsit karena kesamaan sifat geokimianya. Berdasarkan hasil perhitungan keseimbangan massa, seluruh unsur Logam Tanah Jarang (LTJ) pada kedua profil endapan bauksit laterit mengalami penurunan (deplesi) pada zona kong, bauksit, dan latosol. Pada profil TYN-05, zona kong menunjukkan peningkatan (pengayaan) unsur vanadium namun penurunan unsur galium. Di zona bauksit, terjadi pengayaan terhadap unsur galium dan vanadium, sedangkan pada zona latosol galium mengalami pengayaan dan vanadium mengalami deplesi. Sementara itu, pada profil TYN-08, zona kong memperlihatkan deplesi unsur galium dan vanadium, sedangkan pada zona latosol terjadi pengayaan terhadap kedua unsur tersebut, yakni galium dan vanadium.
Indonesia holds significant potential for lateritic bauxite, ranking sixth globally with reserves of approximately one billion tons. Sanggau Regency in West Kalimantan is among the regions with the largest bauxite resources in Indonesia, with reserves reaching 1.23 billion tons. Beyond aluminum, lateritic bauxite deposits also contain critical minerals such as rare earth elements (REEs), gallium, and vanadium, which play strategic roles in the technology industry. This study aims to investigate the potential of critical minerals namely rare earth elements, gallium, and vanadium in lateritic bauxite deposits derived from granitoid parent rocks.The methods used include mineralogical analysis through petrography on seven parent rock samples and eight lateritic bauxite profile samples, as well as XRD analysis on six samples to determine the mineral composition of both parent rocks and lateritic profiles. Geochemical analysis was conducted using ICP-MS and ICP-AES to determine the concentrations of major elements and critical minerals across each profile zone. Lateritic bauxite deposits in Tayan originate from granodiorite and tonalite rocks and form profiles consisting of onion ring spheroidal weathering, the "kong" zone, bauxite zone, and latosol zone, categorized as kaolinitic bauxite. The study results show that rare earth elements correlate positively with SiO?; gallium correlates positively with Al?O?, TiO?, and Fe?O?; and vanadium correlates with Fe?O? and TiO?. Parent rocks contain REE concentrations ranging from 59.69 to 210.42 ppm, vanadium from 66 to 196 ppm, and gallium from 12.2 to 18.8 ppm. In the lateritic bauxite profile, REE concentrations range from 4.58 to 96.58 ppm, vanadium from 96 to 333 ppm, and gallium from 16 to 29.6 ppm. The decrease in REE concentration suggests partial release during the weathering process. The highest REE concentrations in the bauxite profile are found in the kong zone, likely adsorbed by kaolinite minerals. Vanadium substitutes for Fe within the mineral structures of goethite and hematite, while gallium associates with Al?O? and reaches its highest concentrations in the bauxite zone by replacing Al in gibbsite due to its similar geochemical properties. Based on mass balance calculations, all REEs across both bauxite profiles show depletion in the kong, bauxite, and latosol zones. In profile TYN-05, the kong zone exhibits enrichment of vanadium and depletion of gallium. The bauxite zone shows enrichment of both gallium and vanadium, while the latosol zone reveals enrichment of gallium and depletion of vanadium. In contrast, profile TYN-08 shows depletion of gallium and vanadium in the kong zone, whereas the latosol zone exhibits enrichment of both elements.
Kata Kunci : Logam Tanah Jarang, Galium, Vanadium, Tayan, Bauksit Laterit, Kesetimbangan Massa