Aktivitas Antiinflamasi Infusa Clitoria ternatea L. dalam Sediaan Serum Wajah melalui Penghambatan Denaturasi Protein
Vincensia Yurin Prilia Kristanti, Prof. Dr. Rarastoeti Pratiwi, M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Perawatan kulit dengan produk berbahan dasar alami mulai banyak dicari
oleh masyarakat untuk mengatasi berbagai masalah inflamasi pada kulit. Telang (Clitoria
ternatea L.) termasuk tanaman herba yang mudah tumbuh di Indonesia, yang
mengandung berbagai senyawa bioaktif, diantaranya sebagai antiinflamasi. Penelitian
ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis aktivitas antiinflamasi infusa Clitoria
ternatea untuk sediaan serum wajah secara in vitro. Penelitian ini
dilakukan dengan membuat infusa bunga telang kering yang diformulasikan
dalam formula serum pada tiga variasi konsentrasi, yaitu 5, 10, dan 15% (w/v).
Analisis aktivitas antiinflamasi dalam menghambat denaturasi protein melalui
perhitungan persen inhibisi. Perbandingan efektivitas dilakukan antara infusa
dengan kontrol positif. Metode yang digunakan adalah penghambatan denaturasi
protein dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Formulasi sediaan serum wajah dilakukan dalam berbagai uji fisiko-kimia, yakni homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, uji organoleptik, dan uji hedonik. Data hasil persentase inhibisi yang diperoleh dianalisis
menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji One-Way ANOVA; serta dilanjutkan uji Friedman
untuk data penilaian
hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serum wajah yang mengandung 15% infusa
bunga telang memiliki aktivitas antiinflamasi terbaik, dengan rata-rata
presentase inhibisi sebesar 79,59% dibandingkan yang lainnya, terlihat dari
persentase inhibisi yang terus meningkat setiap pertambahan konsentrasi. Hasil
uji fisiko-kimia menunjukkan sediaan serum wajah telah memenuhi parameter mutu,
kecuali daya sebar.
Skin care products made from natural ingredients are increasingly sought
after by the public to address various inflammatory skin issues. Clitoria
ternatea L. is a herbaceous plant that grows easily in Indonesia and
contains various bioactive compounds, including anti-inflammatory properties.
This study was conducted to analyze the anti-inflammatory activity of Clitoria
ternatea infusion for facial serum formulations in vitro. The study
involved preparing dried butterfly pea flower infusion formulated into a serum
at three concentration levels: 5, 10, and 15% (w/v). Anti-inflammatory activity
was assessed by inhibiting protein denaturation through percentage inhibition
calculations. The effectiveness was compared between the infusion extract and
the positive control. The method used was protein denaturation inhibition
measured by absorbance using a UV-Vis spectrophotometer. The formulation of the
facial serum was subjected to various physicochemical tests, including
homogeneity, pH, spreadability, adhesion, organoleptic testing, and hedonic
testing. The percentage inhibition data obtained were analyzed using normality
tests, homogeneity tests, One-Way ANOVA tests; followed by Friedman tests for
hedonic assessment data. The results showed that facial serum containing 15% butterfly
pea flower infusion exhibited the best anti-inflammatory activity, with an
average inhibition percentage of 79,59% compared to others, as evidenced by the
continuously increasing inhibition percentage with each increase in
concentration. The physical-chemical test results indicated that the facial
serum formulation met quality parameters, except for spreadability.
Kata Kunci : antiinflamasi, bunga telang, denaturasi protein, One-Way ANOVA, serum wajah