Laporkan Masalah

Partisipasi Masyarakat dalam Implementasi Strategi Community Based Resources Management (CBRM) di Paguyuban Bank Sampah Semutharjo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

Annisa Putri Wachyudika, Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Pengelolaan sampah menjadi salah satu isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, permasalahan seperti rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan fasilitas pendukung, serta belum terintegrasinya inisiatif lokal menjadi hambatan dalam pengelolaan sampah yang efektif. Meskipun telah berdiri beberapa unit bank sampah di tingkat desa, fragmentasi kelembagaan masih menghambat optimalisasi pengelolaan. Sebagai respons atas kondisi tersebut, PT Tirta Investama Klaten melalui program CSR mendorong pembentukan Paguyuban Bank Sampah Semutharjo sebagai forum kolaboratif di tingkat kecamatan untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih terorganisir. 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kerangka konseptual yang digunakan adalah community based resources management (CBRM) yang menekankan pada prinsip desentralisasi, pemberdayaan, pembelajaran sosial, dan keberlanjutan. Partisipasi masyarakat dianalisis menggunakan konsep Soetomo (2008) yang mencakup seluruh tahapan pembangunan, mulai dari identifikasi masalah hingga pemeliharaan kegiatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi CBRM di Paguyuban Bank Sampah Semutharjo telah diterapkan secara optimal melalui mekanisme swakelola berbasis komunitas. Proses pemberdayaan berlangsung secara bertahap melalui tahapan enabling, empowering, dan protecting, disertai perkembangan pembelajaran sosial melalui pendekatan trial and error serta transfer pengetahuan. Keberlanjutan tercapai pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, dengan partisipasi aktif masyarakat di setiap tahapan pembangunan. Meskipun sejumlah tantangan masih ditemui, penyelesaiannya telah diupayakan melalui musyawarah internal. Namun demikian, apabila tidak dikelola secara berkelanjutan, permasalahan tersebut berpotensi menghambat bahkan merusak capaian yang telah dibangun. Oleh sebab itu, penguatan kelembagaan secara partisipatif tetap menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi dinamika ke depan. 

Waste management has emerged as a strategic issue in the pursuit of sustainable development. In Polanharjo Sub-district, Klaten Regency, challenges such as low public awareness, limited supporting infrastructure, and the lack of integration among local initiatives hinder effective waste management. Although several village-level waste bank units have been established, institutional fragmentation continues to obstruct optimization efforts. In response to these conditions, PT Tirta Investama Klaten, through its CSR program, initiated the formation of the Paguyuban Bank Sampah Semutharjo as a collaborative forum at the sub-district level to promote a more organized waste management system. 

This study employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The conceptual framework is based on the community based resources management (CBRM) strategy, which emphasizes decentralization, empowerment, social learning, and sustainability. Community participation is analyzed using Soetomo’s (2008) framework, which covers all stages of development, from problem identification to the maintenance of activities. 

The findings reveal that the CBRM strategy has been optimally implemented in the Paguyuban Bank Sampah Semutharjo through a community based self-management mechanism. The empowerment process occurred gradually through the stages of enabling, empowering, and protecting, accompanied by the development of social learning via trial-and-error approaches and knowledge transfer. Sustainability has been achieved across social, economic, and environmental dimensions through the active participation of the community in each stage of the development process. Despite several ongoing challenges, internal deliberations have been conducted to address them. However, if not managed sustainably, these issues may potentially hinder or even undermine the achievements made. Therefore, participatory institutional strengthening remains essential to navigate future dynamics. 

Kata Kunci : Pengelolaan Sampah, Community Based Resources Management (CBRM), Partisipasi Masyarakat, Paguyuban Bank Sampah Semutharjo.

  1. S1-2025-480791-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480791-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480791-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480791-title.pdf