Laporkan Masalah

Pengukuran Ground Penetrating Radar (GPR) untuk Estimasi Ketebalan Endapan Nikel di Tapunopaka, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara

Gegap Bijak Gandhi, Dr. Afif Rakhman, S. Si., M.T.; Muhammad Arief Wicaksono, S.T., MEnergy

2025 | Skripsi | GEOFISIKA

Indonesia, khususnya Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu penghasil nikel terbesar di dunia. Untuk memanfaatkan potensi nikel laterit secara optimal, diperlukan metode eksplorasi yang efisien dan non-destruktif, seperti Ground Penetrating Radar (GPR). GPR menggunakan gelombang elektromagnetik untuk menghasilkan citra bawah permukaan dengan resolusi tinggi, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengestimasi ketebalan lapisan nikel laterit. Dalam penelitian ini, pengukuran dilakukan menggunakan GPR MALÅ dengan antena frekuensi 30 MHz dan estimasi kedalaman hingga 45 meter. Data diperoleh dari tiga lintasan barat-timur, kemudian diolah menggunakan perangkat lunak ReflexWave dan OasisMontaj untuk menghasilkan radargram 2D, peta 1D, dan penampang 3D. Hasil pengolahan menunjukkan perbedaan respon gelombang pada setiap lapisan: amplitudo rendah pada lapisan limonite dan amplitudo tinggi pada lapisan saprolite. Dengan kontras gelombang yang jelas antar lapisan, identifikasi batas dan ketebalan lapisan nikel laterit dapat dilakukan. Rata-rata ketebalan lapisan nikel laterit yang diperoleh adalah 16,83 meter, terdiri dari 2,05 meter lapisan limonite dan 14,81 meter lapisan saprolite.

Indonesia, particularly Southeast Sulawesi Province, is one of the world's largest nickel producers. To optimally utilize laterite nickel resources, efficient and nondestructive exploration methods such as Ground Penetrating Radar (GPR) are required. GPR employs electromagnetic waves to produce high-resolution subsurface imagery, making it suitable for identifying and estimating the thickness of laterite nickel layers. In this study, measurements were conducted using a MALÅ GPR system with a 30 MHz antenna, capable of reaching depths up to 47 meters. Data were collected along three west–east transects and processed using ReflexWave and OasisMontaj perangkat lunak to generate 2D radargrams, 1D maps, and 3D cross-sectional models. The results revealed distinct radar responses for each layer: low-amplitude contrast in the limonite layer and high-amplitude contrast in the saprolite layer. The clear contrast between layers enabled identification of boundaries and thickness of the laterite nickel deposits. The average thickness of the laterite nickel layer was found to be 16.83 meters, consisting of 2.05 meters of limonite and 14.81 meters of saprolite

Kata Kunci : Ground Penetrating Radar, Nikel laterit, Sulawesi, Tapunopaka

  1. S1-2025-473702-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473702-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473702-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473702-title.pdf