Penggunaan Metafora Kekerasan Verbal terhadap Politisi Indonesia dalam Twitter
Novi Eka Susilowati, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.; Dr. Hayatul Cholsy, M.Hum.
2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan metafora kekerasan verbal dalam Twitter terhadap enam politisi Indonesia paling populer. Sebagai media sosial yang memberikan media bereskpresi yang leluasa ke penggunanya, Twitter sering kali dimanfaatkan untuk melakukan kekerasan verbal dengan menggunakan piranti metafora. Data penelitian ini berupa 275 metafora yang dikumpulkan dari 3.710 komentar tentang pemberitaan enam politisi Indonesia di akun Twitter politisi Indonesia dan akun Twitter kantor penyiaran berita arus utama. Pengumpulan data dilakukan sejak Oktober 2022 hingga Juni 2023. Dalam penelitian ini, digunakan Nvivo 12 Plus sebagai alat bantu teknis untuk mengklasifikasi data.
Hasil penelitian ini dijabarkan sebagai berikut. Pertama, metafora kekerasan verbal diwujudkan dalam berbagai bentuk, yaitu kata, frasa, klausa, dan kalimat dengan kecenderungan berbentuk kata berkelas kata nomina. Bentuk tersebut digunakan secara bervariasi sesuai dengan karakteristik komunikasi di media sosial. Kedua, ranah sumber metafora kekerasan verbal terhadap politisi dapat dikategorikan menjadi lima kategori utama, yaitu ranah sumber binatang, objek fisik, makhluk metafisik, sampah, dan aktor. Berdasarkan ranah sumber tersebut, ditemukan pula metafora-metafora baru yang tidak ditemukan pada budaya yang lain, misalnya metafora Mak Lampir, Kakek Sugiono, dan Dolores Umbridge. Ketiga, metafora kekerasan verbal yang dilakukan terhadap politisi digunakan untuk memperjelas konsep abstrak, mendehumanisasi, menghina, menuduh, atau memberi nama panggilan buruk yang bersifat merendahkan politisi. Dehumanisasi terhadap politisi dilakukan melalui penggunaan metafora yang bersifat animalisasi ataupun objektifikasi yang melampaui animalisasi. Keempat, penggunaan metafora kekerasan verbal terhadap politisi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu kekecewaan terhadap politisi, ideologi partai politik yang menaungi politisi, adanya akses ke media sosial, adanya fitur anonim/pseudonim, jauhnya jarak sosial, dan konteks budaya.
Berdasarkan temuan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metafora kekerasan verbal terhadap politisi dilakukan sebagai bentuk kekecewaan pengguna Twitter terhadap politisi. Selain itu, metafora kekerasan verbal dilakukan dengan cara membandingkan politisi dengan organisme nonmanusia yang berarti meremehkan atau bahkan menghilangkan posisi dan kualitas politisi sebagai manusia sekaligus merendahkan politisi dalam menjalankan perannya sebagai politisi. Hal tersebut dilakukan dengan mengonseptualisasikan politisi dengan entitas lain.
This study aims to analyze the use of verbal violence metaphors in Twitter against six of Indonesia's most popular politicians. As a social media that provides free expression to its users, Twitter is often used to commit verbal violence by using metaphorical tools. The data for this study are 275 metaphors collected from 3.710 comments on the news coverage of six Indonesian politicians on the Twitter accounts of Indonesian politicians and the Twitter accounts of mainstream news broadcasters. Data collection was conducted from October 2022 to June 2023. In this research, Nvivo 12 Plus was used as a technical tool to classify the data.
The results of this study are described as follows. First, verbal violence metaphors are realized in various forms, namely words, phrases, clauses, and sentences with a tendency to take the form of noun class words. These forms are used variably according to the characteristics of communication on social media. Second, the source domain of verbal violence metaphors against politicians can be categorized into five main categories, namely the source domain of animals, physical objects, metaphysical beings, garbage, and actors. Based on the source domain, new metaphors that are not found in other cultures are also found, such as the metaphors of Mak Lampir, Grandpa Sugiono, and Dolores Umbridge. Third, metaphors of verbal violence perpetrated against politicians are used to clarify abstract concepts, dehumanize, insult, accuse, or give bad nicknames that are demeaning to politicians. Dehumanization of politicians is done through the use of metaphors that are animalized or objectified beyond animalization. Fourth, the use of metaphors of verbal violence against politicians can be caused by various factors, namely disappointment with politicians, the ideology of the political party that houses politicians, access to social media, the existence of anonymous/pseudonymous features, social distance, and cultural context.
Based on the findings, it can be concluded that the use of verbal violence metaphors against politicians is done as a form of disappointment of Twitter users towards politicians. In addition, the metaphor of verbal violence is done by comparing politicians with non-human organisms, which means undermining or even eliminating the position and quality of politicians as humans as well as demeaning politicians in carrying out their role as politicians. This is done by conceptualizing politicians with other entities.
Kata Kunci : metafora, kekerasan verbal, politisi, wacana politik, Twitter